20 Anak Difabel Ikuti Kelas Penanaman Hidroponik

Pekarangan Roemah Difabel, Kelurahan Manyaran, Kecamatan Semarang Barat
RAWAT TANAMAN: Anak penyandang disabilitas tengah menyemai tanaman hidroponik di pekarangan Roemah Difabel, Kelurahan Manyaran, Kecamatan Semarang Barat, belum lama ini. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Sebanyak 20 penyandang disabilitas antusias mengikuti kelas penanaman hidroponik di pekarangan Roemah Difabel, Kelurahan Manyaran, Kecamatan Semarang Barat. Sebanyak 800 bibit sayuran yang ditanam terdiri dari pakcoy, kangkung, selada, dan bayam.

Salah satu anak difabel, Kiki mengaku sangat senang dapat berkesempatan untuk menanam hidroponik untuk pertama kalinya. Menurutnya, selama kelas berlangsung dirinya mengalami kesulitan pada proses dari awal menaman hingga akhirnya panen.

“Hari ini menanam hidroponik, sayurnya itu selada dan bayam bareng Pak Antok, dan lumayan susah nanamnya,” ujarnya saat ditemui Joglo Jateng, belum lama ini.

Sistem penanaman hidroponik dilakukan menggunakan sistem sederhana, yaitu rakit apung. Metode tersebut dipercaya dapat mempermudah para anak difabel dalam proses menanam sayur-sayuran yang masa panennya lebih cepat.

Baca juga:  Musim Hujan, BPBD Jateng Imbau KPU Petakan Lokasi TPS

Founder Komunitas Hidroponik Bogor Raya, Prabani Setyohindriyanto mengukapkan, alasan memilih Roemah Difabel untuk mengedukasi cara menanam hidroponik, yakni karena ingin berbagi pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga apa yang yang sudah diajarkan dapat berguna demi meningkatkan kemandirian anak difabel.

“Saya ingin berbagi ilmu dengan orang difabel tentang pengetahuan hidroponik untuk bisa diketahui oleh anak-anak difabel. Karena mereka membutuhkan pengetahuan bagaimana mereka bisa mandiri untuk bisa menanam sendiri,” jelasnya.

Antok menambahkan, setelah semua sayuran sudah panen, hasilnya akan dijual online dengan beberapa komunitas. Lalu penghasilannya akan dijadikan uang tambahan ank-anak difabel.

Baca juga:  54 Dosen dan Mahasiswa UIN Walisongo Terpilih di AICIS 2024

“Setelah panen nanti dijualkan melalui online dengan beberapa komunitas yang penghasilan dari penjualan itu akan uang tambahan ke anak-anak difabel,” katanya.

Menurutnya, selama delapan bulan mengajarkan kepada para anak difabel, ada beberapa kesulitan yang ia alami. Di antaranya, menanamkan kepedulian untuk menghasilkan sesuatu yang berguna, dan melatih cara berpikir untuk bertanggung jawab dengan apa yang sudah dilakukan.

“Kesulitannya itu bagaimana menanamkan kepedulian mereka untuk menghasilkan sesuatu yang berguna salah satunya menanam tanaman ini. Kemudian, melatih cara berpikir dengan motoriknya dan bertanggung jawab. Untuk solusinya saya menerapkan kesabaran dan melatih mereka dengan dituntun terus,” ucapnya.

Baca juga:  Pemilu Susulan di 10 Desa Digelar 24 Februari

Sementara itu, Duta Pendidikan Disabilitas Indonesia 2022, Andik Setyo Nugroho menyampaikan apreasiasi terhadap anak-anak penyandang disabilitas yang mengikuti kegiatan ini. Menurutnya, anak difabel tetap harus didampingi dalam mengajari berbagai macam pengetahuan yang diberikan.

“Pastinya saya mengapresiasi dengan anak difabel ini dan tentu kita tetap melakukan pendampingan dalam mengajari mereka (anak difabel) seperti yang dikatakan Pak Antok tadi. Harus sabar dengan step by step,” tuturnya. (cr7/mg4)