Pemanfaatan Teknologi Digital dalam Pembelajaran PPKn

Oleh: Kasyati, S.Pd
Guru PPKn SMA N 1 Demak

MENURUT data yang bersumber dari lembaga internasional Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), rata-rata jam belajar siswa adalah 6.800 jam per tahun. Indonesia dinilai masih relatif rendah dibandingkan negara-negara OECD, yaitu 6.000 jam per tahun. Bila ditinjau melalui kondisi sosial, masyarakat relatif tidak kondusif untuk perkembangan anak. Maka penambahan jam belajar di sekolah menjadi solusi efektif untuk memberi stimulan positif kepada siswa melalui sekolah.

Namun di sisi lain, bertambahnya jam pelajaran kini mejadi alasan terhadap menurunnya motivasi belajar siswa. Padahal motivasi adalah kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan antusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan. Di tahun 2023 ini, penurunan motivasi belajar siswa yang merupakan akibat dari pemberlakuan pembelajaran jarak jauh masih sangat terasa sebelumnya. Tak dapat dipungkiri bahwa pandemi covid-19 menjadi penyebab utama menurunnya ketertarikan siswa dalam belajar hingga kini.

Penurunan minat belajar siswa dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Menurut Dwi Tri Santosa dan Tawardjono Us (2016:14), faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar siswa adalah faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik meliputi cita-cita siswa, kemampuan siswa, dan kondisi siswa. Faktor ekstrinsik meliputi kondisi lingkungan siswa, unsur-unsur dinamis dalam belajar, dan proses pembelajaran.

Kebiasaan siswa yang cenderung senang bermain game online dan bermedia sosial apabila dilakukan terus menerus menyebabkan rasa malas dalam megikuti proses belajar. Hal tersebut akan berdampak pada motivasi belajar siswa. Salah satu faktor eksternal yang menjadi penyebab menurunnya minat belajar siswa yaitu lingkungan belajar. Lingkungan belajar sangat berpengaruh dalam kegiatan pembelajaran.

Penyebab lainnya metode pembelajaran yang digunakan guru kurang sesuai dengan kondisi siswa, kurangnya motivasi siswa dalam membaca materi. Kemudian metode mengajar guru yang belum inovatif, serta kegiatan belajar mengajar yang masih berpusat pada guru. Padahal pada mata pelajaran pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan (PPKn), peran siswa dan guru sangatlah dibutuhkan. Tidak hanya terpusat pada guru sebagai presentator, para siswa juga diperkenakan untuk menyampaikan pendapat atau argumen sebagai bentuk demokrasi. Model pembelajaran perpaduan antara kontekstual dan realistik yang dikombinasi dengan perkembangan teknologi saat ini merupakan salah satu bentuk dari inovasi pembelajaran yang dapat membuat peserta didik termotivasi dalam proses pembelajaran.

Hal ini disebabkan karena peserta didik diberikan kesempatan untuk bertanya dan menyampaikan pendapat sekaligus bersosialisasi langsung dengan teman yang lainnya. Model pembelajaran seperti itulah yang akan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan memenuhi level kogitif C3 mengenai analisis lingkungan sekitar.

Pada pembelajaran PPKn di SMAN 1 Demak sendiri, guru sudah menerapkan model pembelajaran dimana murid menjadi subjek pembelajaran. Mulai dari mengkulik permasalahan yang ada dan menganalisis solusi yang diperlukan. Tentunya kasus yang diangkat adalah kasus yang sedang hangat diperbincangkan di lingkungan sekitar. Diselingi dengan quiz point yang ditampilkan dalam bentuk game kecil melalu gadget ataupun proyektor yang harus dijawab dengan cepat dan tepat, untuk meningkatkan keaktifan siswa di dalam kelas.

Pemanfaatan teknologi dalam bidang pendidikan tak hanya berhenti dengan itu, namun dimanfaatkan pula dalam pembuatan materi pembelajaran dalam bentuk animasi. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih mudah dalam memahami pembelajaran yang ada. Meninjau bahwa pembelajaran karakter inilah yang diharapkan mampu menamengi mereka di maraknya kasus kenakalan remaja disekitar mereka. Model pembelajaran ini yang efektif untuk mengasah potensi siswa di dalam kelas tanpa menimbulkan kebosanan. Namun justru meningkatkan motivasi mereka dalam pembelajaran. Sehingga pembelajaran PPKn lebih menyenangkan. (*)