Pentingnya Peningkatan Literasi di Sekolah

Yessica Murpratiwi

Oleh: Yessica Murpratiwi
Mahasiswa PPG Prajabatan Universitas Negeri Semarang

SALAH satu faktor penting untuk memajukan sebuah bangsa adalah sumber daya manusia (SDM) yang handal dan bermutu. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh SDM yang handal adalah SDM yang literat. Keterampilan literasi (membaca dan menulis) yang dimiliki haruslah lebih mendominasi daripada keterampilan orasinya (menyimak dan berbicara). Kemampuan literasi yang tinggi sangat berpengaruh terhadap pemerolehan berbagai informasi yang berhubungan dengan usaha menjalani kehidupan.

Di abad ini, informasi dapat diakses tanpa batas. Sehingga masyarakat dituntut cakap literasi terutama para siswa yang setiap harinya memiliki tugas belajar. Kemampuan literasi tidak hanya dilihat dari kemampuan membaca dan menulis saja. Tapi juga memahami dalam arti menganalisa, mengkritisi dan merefleksikan apa yang dibaca. Namun, ternyata selain kemampuan literasi penduduk Indonesia kurang, minat bacanya pun rendah.

Terbukti berdasarkan hasil penelitian UNESCO, minat baca orang Indonesia pada 2012 hanya 0,001. Berarti, dari seribu orang hanya ada, hanya satu orang yang memiliki minat baca serius (Republika).

Pada rentang usia tujuh sampai sembilan tahun, memang rata-rata siswa sudah bisa membaca tapi belum pada tahap cakap literasi. Karena belum sepenuhnya memahami apa yang dibaca.

Upaya pemerintah untuk meningkatkan budaya literasi adalah dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Kebijakan ini berisi tentang kewajiban bagi siswa SD, SMP, dan SMA untuk membaca dan dituangkan dalam Gerakan Literasi Sekolah sebagai upaya untuk meningkatkan minat baca siswa di Indonesia.

Seseorang baru bisa dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman bacaannya. Pertama, berdasarkan beberapa definisi dari para ahli mengenai istilah literasi, maka dapat disimpulkan bahwa literasi dalam abad ke-21 ini diartikan sebagai kemampuan membaca, menulis, memandang, dan merancang suatu hal dengan disertai kemampuan berpikir kritis yang menyebabkan sesorang dapat berkomunikasi dengan efektif dan efesien. Sehingga menciptakan makna terhadap dunianya.

Kedua, realita literasi siswa di Indonesia menunjukkan bahwa kemampuan literasi bahasa siswa Indonesia tergolong rendah. Ketiga, literasi tidak boleh hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis semata. Akan tetapi lebih luas pengertian dan maknanya.

Keempat, kesulitan yang dihadapi oleh siswa sekolah dasar dalam meningkatkan kemampuan literasi bahasanya adalah belum sesuainya praktik literasi yang dilakukan oleh guru. Selain itu kurangnya lingkungan literasi yang tersedia, dan tingkat literasi orangtua yang berbeda sehingga berdampak pada kurangnya literasi informasi yang diperoleh siswa dari rumah.

Kelima, dalam upaya memecahkan masalah sulitnya para siswa meningkatkan kemampuan literasinya, berbagai pihak pembuat dan pengambil kebijakan, sekolah dan guru, serta orangtua memiliki peran yang cukup esensial. Dalam upaya membiasakan membaca dan menggerakkan literasi, ada beberapa kegiatan yang dilakukan pada tahap pembiasaan. Yakni mengarahkan siswa untuk membaca buku pengayaan selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Selain itu, sekolah berupaya untuk memfasilitasi gerakan literasi dengan menyediakan buku pengayaan yang disediakan di perpustakaan dan di sudut baca sekolah.

Dalam pengembangan gerakan literasi, sekolah berupaya bekerjasama dengan mitra yakni komite sekolah dan pihak lain. Seperti pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan Badan Narkotika Nasional (BNN), untuk berpartisipasi menggiatkan gerakan literasi.

Para guru juga berupaya agar kegiatan tersebut tidak membosankan dengan menggunakan variasi media pembelajaran. Misalnya dengan menggunakan video pembelajaran yang dapat membuat siswa lebih antusias mengikuti kegiatan literasi. (*)