Jalan Menuju Ketakwaan

Dr. KH. Rofiq Mahfudz, M. Si.

Oleh: Dr. KH. Rofiq Mahfudz, M. Si.
Pengasuh Ponpes Arrois Cendekia Semarang dan Wakil Sekretaris PWNU Jateng

ISTILAH takwa mungkin sudah tidak asing di telinga kita. Bahkan, dalam seminggu sekali umat Islam minimal mendapatkan pengingat untuk meningkatkan ketakwaannya lewat mimbar-mimbar masjid di seluruh penjuru dunia. Bukan tanpa alasan, upaya tersebut dilakukan mengingat takwa adalah modal untuk mendapatkan keselamatan di dunia maupun akhirat.

Kata takwa sendiri berasal dari bahasa arab ‘taqwa’ yang merupakan bentuk masdar dari ‘ittaqa-yattaqi’ yang memiliki arti menjaga diri dari segala yang membahayakan atau membawa mudharat atau kebinasaan.

Takwa merupakan sikap yang sangat penting untuk dilakukan oleh umat Islam. Saking pentingnya takwa, Allah sampai mengulang kata takwa sebanyak 15 kali di dalam Al-Qur’an. Takwalah yang menjadikan barometer kemuliaan seorang hamba dihadapan Allah.

Allah menyebut bahwa di antara yang paling mulia disisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa. (Al-hujarat 49:13). Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah ditanya tetang mayoritas penghuni surga. Beliau menyebutkan bahwa penyebab paling banyak manusia masuk surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.

Untuk menjadi insan yang takwa, tentunya kita harus tahu bagaimana jalan menuju ketakwaan. Dengan demikian, kita akan lebih mudah untuk menuju jalan tersebut dan masuk menjadi golongan orang-orang yang bertakwa.

Dalam kitab Taisirul Khalaq fi ‘Ilmil Akhlaq, Syaikh Hasan Al-Mas’udi menyebutkan beberapa metode untuk menuju jalan takwa. Metode tersebut meliputi; mengakui kehinaan diri, mengingat kebaikan Allah, serta mengingat kematian.

Mengakui kehinaan diri menjadi hal pertama menuju jalan takwa. Dengan mengakui diri kita sebagai hamba yang hina dan lemah dan Allah adalah zat yang maha kuasa dan mulia, maka tidak sepatutnya bagi kita untuk melakukan kemaksiatan di hadapan zat yang maha kuasa dan mulia tersebut, karena semua takdir kita berada di tangan-Nya.

Mengingat kebaikan Allah juga menjadi jalan menuju ketakwaan. Hal tersebut bisa kita lakukan dengan menyadari betul bahwa Allah tidak pernah pilih kasih terhadap seluruh makhluk-Nya. Allah selalu memberikan rizki kepada seluruh makhluk-Nya tanpa melihat apakah makhluk tersebut merupakan ahli ibadah atau ahli maksiat. Dengan mengingat hal tersebut, kita akan lebih mudah bersyukur dan tidak akan ingkar terhadap nikmat yang telah diberikan.

Selain kedua metode tersebut, terdapat hal yang tak kalah penting untuk menuju jalan takwa, yakni mengingat mati. Dengan mengingat mati, kita akan menjadi pribadi yang lebih berhati-hati serta menjadi pribadi yang istiqamah menjalankan semua kewajiban serta meninggalkan segala larangan-Nya sebagai bekal yang akan dibawa ke akhirat nanti. (*)