Fasilitasi Penyintas ODGJ, RSJD Surakarta Gelar Djuminten Dolan Semarak Jiwa dan Pentas Wayang

penyintas ODGJ RSJD Surakarta
TERAMPIL: Para penyintas ODGJ RSJD Surakarta saat memamerkan hasil karyanya di sekitar rumah sakit, Jumat (23/6). (ADIT BAMBANG SETYAWAN/JOGLO JOGJA)

SURAKARTA, Joglo Jateng – Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta menggelar gebyar Djuminten Dolan Semarak Jiwa dan pentas wayang, Jumat (23/6).  Kegiatan itu digelar dalam rangka memperingati Bulan Pancasila dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 104 RSJD Surakarta.

Kepala Bidang Pelayanan Medis RSJD Surakarta, dr Maria Rini Indriarti, Sp.KJ, M.Kes mengatakan,  kegiatan Djuminten Dolan (Jumat Dodol lan Ketemuan) dipilih untuk memfasilitasi para penyintas gangguan jiwa atau rehabilitan gangguan jiwa yang sudah mengalami perbaikan. Sebelumnya, para disabilitas mental itu juga sudah didampingi dan dilatih untuk hal produktif.

Baca juga:  Bank Jateng Cabang Koordinator Surakarta Bersinergi dengan Korem 074/Warastratama Adakan Pelatihan UMKM bagi Anggota yang Memasuki Masa MPP

“Jadi terapi vokasional kita ada kegiatan day care namanya. Day care itu kami latih mereka kegiatan untuk bekerja. Ada kelas membatik, kelas bikin telur asin, kelas bikin batik ciprat, batik tulis, dan keset,” katanya.

Setidaknya, ada sekitar 40 stan dibuka untuk memberikan fasilitas kepada para penyintas. Kegiatan itu, kata Rini merupakan kegiatan rutin rumah sakit, yang digelar setiap Jumat pada minggu kedua. Namun, dalam pelaksanaan kali ini pihaknya mengemas secara beda dan lebih menarik.

Adanya kegiatan semacam itu, diharapkan para penyintas setelah mengalami remisi atau perbaikan, bisa kembali ke masyarakat. Selebihnya, bisa hidup bermartabat, bisa mandiri dalam menjaga kesehatan, dan memenuhi kebutuhan hidupnya.

Baca juga:  Nana Sudjana: Sinkronisasi dan Kolaborasi Kunci Perencanaan Pembangunan Jawa Tengah

Ia menambahkan, kegiatan Djuminten Dolan dikemas dalam perayaan Bulan Pancasila karena sesuai dengan tema, yakni gotong royong menciptakan suatu peradaban. Dalam hal ini, peradaban yang dimaksud adalah memartabatkan orang gangguan jiwa.

“Adanya kegiatan ini, kami ingin menghilangkan stigma bahwa orang gangguan jiwa itu tidak bisa berkarya. Dengan ini para penyintas akan bisa bertemu dengan orang, berinteraksi, dan bisa kembali ke masyarakat,” ucapnya.

Tak hanya Djuminten Dolan, RSJD Surakarta juga menghelat pentas wayang kulit. Dihadirkan dalang cilik Gibran Maheswara yang menampilkan lakon babat alas Wonomarto.

Baca juga:  Nana Sudjana: Sinkronisasi dan Kolaborasi Kunci Perencanaan Pembangunan Jawa Tengah

Rini menyampaikan, dalam menciptakan peradaban diperlukan regenerasi. Sehingga dengan adanya pentas wayang itu lebih mengenalkan budaya sendiri yang adiluhung, sarat dengan keindahan, dan nilai nilai yang patut dilestarikan. (bam/gih)