Pembelajaran Berdiferensiasi, Solusi Menajamkan Potensi Siswa

Oleh: Titis Nugroho, S.Pd.SD.
Guru SD N 02 Pelutan, Kec. Pemalang, Kab. Pemalang

PEMBELAJARAN telah mendorong guru lebih kreatif ketika menyajikan materi pembelajaran. Kreativitas ini terkadang muncul karena masalah yang ditemui ketika memberikan materi pembelajaran. Salah satunya adalah masalah siswa yang kurang menunjukkan minat pada mata pelajaran yang sedang diajarkan.

Metode pembelajaran berdiferensiasi dapat jadi solusi alternatif ketika guru terhambat masalah tersebut. Pembelajaran berdiferensiasi berfokus pada tiga hal utama. Pertama, diferensiasi konten/materi. Jika fokus pada konten, maka siswa punya kebebasan untuk menentukan sumber daya alam di sekitarnya untuk diolah jadi sumber makanan.

Kedua, diferensiasi proses. Guru dapat memberikan siswa kebebasan untuk mengolah sumber daya alam yang telah dipilihnya. Ketiga, diferensiasi produk. Diferensiasi produk akan tampak dari produk yang dihasilkan siswa. Produk ini beragam jenisnya karena bahan dan proses yang digunakan juga beragam.

Guru dapat meminta orangtua atau saudara untuk menilai produk yang dibuat siswa. Penilaian dapat meliputi rasa, inovasi, dan bentuk. Penjelasan produk juga tidak harus selalu dalam bentuk laporan tertulis.

Baca juga:  TS-TS Gairahkan Pembelajaran Fotosintesis Kelas 4

Siswa dapat menjelaskan produk dalam bentuk visual seperti video presentasi/foto dokumentasi ataupun dalam bentuk audio seperti voice note tergantung minat siswa. Meskipun konten, proses, dan produk yang dihasilkan beragam, namun guru punya acuan penilaian yang seragam.

Acuan penilaian dalam pembelajaran ini meliputi penilaian sikap yang dilihat dari sikap tanggung jawab, disiplin, dan kerja keras siswa. Penilaian pengetahuan tergambar dari cara siswa menjelaskan proses menghasilkan suatu produk. Sedangkan penilaian keterampilan tergambar dari proses dalam menghasilkan produk makanan yang bahannya berasal dari lingkungan sekitar siswa.

Cara pertama untuk mencari tahu karakteristik masing-masing siswa adalah dengan mengamati gaya belajar mereka. Misalnya ada siswa yang lebih tertarik pada hal yang sifatnya visual, maka cara pemberian materi dan produk hasil belajar pun diharapkan akan dalam bentuk visual.

Baca juga:  Belajar Bahasa Indonesia melalui Metode Reading Aloud

Cara lainnya bisa dengan melihat dan mengamati tugas-tugas yang sudah dikerjakan siswa. Guru dapat berdiskusi dengan guru mata pelajaran lain tentang kemampuan siswa tersebut ketika menerima materi pelajaran.

Selain itu, guru juga dapat membuat pertanyaan pemantik untuk mengetahui minat dan karakteristik siswa. Misalnya pertanyaan tentang kebiasaan belajar siswa. Di antaranya ada siswa yang lebih senang belajar sambil mendengarkan musik. Ada yang lebih senang dalam kondisi sepi, atau mungkin dan ada yang bisa belajar sambil menonton televisi, dan masih banyak lagi.

Namun, menerapkan pembelajaran berdiferensiasi bukanlah hal yang mudah. Guru harus dapat menyiapkan beberapa materi dan instrumen penilaian sekaligus. Misalnya saya menggunakan diferensiasi konten/materi, berarti saya harus menyiapkan materi lebih dari satu. Sama halnya dengan diferensiasi proses dan produk, berarti harus ada lebih dari satu media pembelajaran dan alat penilaian.

Baca juga:  Lingkungan Sekolah Ramah Buku, Upaya Meningkatkan Kemampuan Literasi Numerasi

Sebenarnya pembelajaran berdiferensiasi dapat menguntungkan anak untuk memaksimalkan potensi mereka. Terlebih lagi untuk anak berkebutuhan khusus yang pembelajarannya berbeda dengan siswa lain. Saya sendiri memiliki siswa tunarungu dan mereka lebih cepat menyerap materi dengan pendekatan pembelajaran diferensiasi.

Melalui pembelajaran berdiferensiasi, sikap toleransi dapat muncul dengan pemberian keleluasaan bagi siswa untuk mengembangkan potensi. Guru tidak membatasi bahan dasar, proses, dan produk yang dihasilkan siswa. Namun, guru juga tidak membebaskan semuanya sehingga pembelajaran terkesan ambyar.

Guru tetap mengontrol pembelajaran dengan memberikan isian lembar kerja (LK) yang sama bagi semua siswa. Selain itu, siswa juga jadi lebih aktif ketika belajar. Siswa mengalami langsung apa yang sedang mereka pelajari. Mereka juga jadi lebih sering berinteraksi dengan orang tua untuk membantu dan mengevaluasi apa yang sudah mereka pelajari bersama gurunya. (*)