Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Merdeka

Oleh: Anggun Waqti Azimah, SPd.SD
Guru SDN 1 Bancar, Kec. Purbalingga, Kab. Purbalingga

PENDIDIKAN karakter merupakan salah satu topik yang selalu menjadi perbincangan hangat dalam setiap diskusi di kalangan praktisi pendidikan. Karakter adalah  cerminan diri setiap manusia.Karakter yang positif akan menghasilkan sikap yang baik, begitupun sebaliknya.

Dalam Kurikulum Merdeka, penanaman pendidikan karakter dapat dilakukan melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dan disisipkan dalam materi pembelajaran. Pendidikan karakter sangat penting untuk menghasilkan peserta didik yang cerdas dan berkarakter, sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan zaman.

Husaini Usman (2013) menyebutkan, definisi pendidikan adalah upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran, serta tubuh anak. Sedangkan pendidikan karakter menurut Samani dan Hariyanto (2013) adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, rasa, dan karsa. Menurut Zubaedi (2012), pendidikan karakter adalah segala perencanaan usaha yang dilakukan oleh guru yang dapat mempengaruhi pembentukan karakter peserta didik untuk memahami, membentuk dan memupuk nilai-nilai etika secara keseluruhan.

Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengertian pendidikan karakter di atas, ditegaskan bahwa pendidikan karakter sangat penting. Karena pendidikan karakter yang baik akan membuat peserta didik mampu dalam menghadapi masalah dengan baik. Selain itu pendidikan karakter juga dapat membuat peserta didik  mengerti akan benar dan salah. Sehingga tidak tergesa-gesa dalam menyelesaikan masalah yang ada. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus ditanamkan pada anak sejak dini. Termasuk kepada peserta didik yang duduk di bangku sekolah dasar.

Sebagai guru kelas IV di SD Negeri 1 Bancar, penulis selalu berusaha untuk menanamkan nilai-nilai moral yang baik kepada peserta didik di setiap kegiatan pembelajaran. Yakni meliputi religius, jujur, percaya diri dan pekerja keras, gotong royong, disiplin, toleransi, nasionalis, mandiri, rendah hati, dan peduli lingkungan.

Berikut contoh-contoh cara menanamkan pendidikan karakter di sekolah dasar. Pertama, kita sebagai pendidik harus bisa memberikan contoh atau teladan bagi peserta didiknya.

Ketika peserta didik melihat hal baik yang dilakukan pendidik maka otomatis peserta didik pun akan melakukan hal baik tersebut. Akan tetapi jika pendidik memberikan nasehat yang baik, sementara tidak diikuti dengan sikap dan perilakunya yang baik, maka hal tersebut akan membawa hal yang kurang baik juga bagi peserta didiknya. Oleh karena itu, guru harus lebih banyak memberikan contoh yang baik agar bisa membawa kebaikan bagi peserta didiknya.

Kedua, menyisipkan pesan moral di setiap pembelajaran, seperti mengajari siswa untuk belajar dari setiap pelajaran yang dipelajari. Dengan cara ini, siswa dapat mengetahui bahwa ilmu yang mereka pelajari sangat penting untuk masa depan.

Ketiga, mengajarkan sopan santun dengan mengoreksi peserta didik yang nakal agar peserta didik tahu bahwa apa yang dikatakan atau dilakukan kurang sesuai. Guru harus menegur peserta didik dengan lembut dan bukan menghakimi.

Keempat, gotong royong harus ditanamkan pada anak sedini mungkin dengan metode problem solving. Mereka harus tahu bahwa masalah bersama akan lebih mudah dipecahkan dengan bekerjasama atau bergandengan tangan. Pesera didik juga dapat memahami konsep persahabatan dan ikhlas menawarkan bantuan kepada teman yang membutuhkan.

Pendidikan karakter sangat penting disampaikan pada jenjang sekolah dasar. Terbukti, setelah menyisipkan pendidikan karakter pada pembelajaran yang diampu penulis di SD Negeri 1 Bancar, peserta didik menjadi lebih berkarakter dan lebih disiplin. Hal itu sangat berpengaruh pada keberhasilan pembelajaran dan peningkatan kemampuan peserta didik.

Semoga bermanfaat dan menginspirasi para pembaca. Merdeka belajar, merdeka mengajar!. (*)