Rajut Kebersamaan Warga dengan Bineka Tunggal Ika

warga RW VI Kelurahan Banyumanik, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang
ANTUSIAS: Sejumlah warga RW VI Kelurahan Banyumanik, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang saat melakukan jalan sehat sekaligus karnaval pagi dengan pakaian pahlawan, Minggu (13/8). (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Menyambut HUT RI ke-78, ratusan warga RW VI melaksanakan jalan sehat sekaligus karnaval pagi memakai pakaian kepahlawanan di halaman Masjid Istiqomah Komplek Diponegoro Kelurahan Banyumanik, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Minggu (13/8). Hal itu dilakukan sebagai bentuk merajut kebersamaan warganya melalui Bineka tunggal Ika.

Ketua panitia sekaligus Ketua RT 4 RW 6 Kelurahan Banyumanik Harso Susilo mengungkapkan, penggunaan pakaian adat disesuaikan dengan adanya surat edaran dari Pemerintah Pusat untuk upacara 17an wajib menggunakan pakaian adat, dengan tema ‘Terus Melaju Untuk Indonesia Maju’.

Baca juga:  Berbaur Dengan Masyarakat Kandri, Mahasiswa KKN Posko 11 UIN Walisongo Ikuti Rutinan Fatayat

“Lalu kita ambil sesuai kesepakatan, dengan sub temanya merajut kebinekaan, kami pakai pakaian adat semua karena tahun lalu ambil tema bung Karno. Nah tahun ini saya ambil kepahlawanan dari pangeran Diponegoro sesuai dengan kompleks nama kita Diponegoro,” ucapnya.

Adapun rangkaian acara yang dilakukan mulai dari jalan sehat bersamaan dengan karnaval menggunakan kuda, kemudian dilanjutkan lomba nyanyi bersama antar RT. “Seperti kita lihat, kita pakai pakaian ada semua dari Sabang sampai Merauke. Kita bebaskan pakaiannya, khusus wajib itu ketua RT dan panitia. Kalau yang lain pakai atasnya putih bawahnya merah,” jelasnya.

Baca juga:  LRC-KJHAM Galang Donasi Pakaian Bekas Layak Pakai
MULAI: Pembukaan kegiatan jalan sehat sekaligus karnaval pagi dengan pakaian pahlawandi Kelurahan Banyumanik, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Minggu (13/8).

Kemudian, pihaknya juga menjelaskan uniknya acara 17an ini, yakni tidak memesan makanan dari luar. Namun, dirinya lebih memilih untuk membuka dapur umum, sehingga lebih sederhana, dan tradisional.

Dengan adanya acara 17an Agustusan ini, Harso berharap keguyuban dan gotong royong yang ada di lingkungan masyarakat semakin rukun dan tidak ada seluruh pendapat antara warga. “Dengan adanya momen ini, kita jadi sering ngumpul karena sebelumnya gak pernah ada. Paling gak kita kumpul semua,” harapnya.

Sementara itu, salah satu warga Nur aziz (66) mengatakan, persiapannya untuk mengumpulkan atribut serta pakaian adat yang dipakai sekitar dua minggu. Dengan tema pakaian desa, disertai dengan aksesoris camping yang dibelinya seharga Rp 20 Ribu. (cr7/abd)