Tingkatkan Berfikir Kritis Siswa dengan ‘Elinva’

Oleh: Khumariyah, S.Pd.SD
Guru SD N 2 Bakalan Krapyak, Kec. Kaliwungu, Kab. Kudus

PENDIDIKAN adalah sebuah proses mempelajari hal-hal yang baru. Sedangkan belajar adalah hal utama yang dilakukan dalam sebuah proses pendidikan. Belajar dapat diartikan dengan berbagai kalimat dan sudut pandang yang berbeda.

Hamalik (2015) menjelaskan bahwa belajar adalah mengubah atau memperteguh kelakuan melalui sebuah pengalaman. Sehingga belajar dimaknai sebagai sebuah proses untuk memperoleh pengetahuan atau keterampilan melalui instruksi.

Slameto (2013) menyatakan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi belajar. Yaitu faktor internal yang merupakan faktor dalam individu saat sedang belajar dan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar individu.

Pembelajaran IPA merupakan pembelajaran yang membosankan dan sulit untuk dipahami ketika siswa membaca materi dalam buku ajar. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan mengembangkan buku ajar atau sumber belajar pendamping untuk pembelajaran yang lebih beragam dan menarik.

Seperti yang dikemukakan oleh Sitepu (2012) bahwa sekumpulan materi yang telah disesuaikan dengan kurikulum yang ditetapkan secara tertulis ataupun tidak dan diuraikan secara runtut dapat disebut dengan buku teks pelajaran. Dijelaskan lebih lanjut bahwa buku teks pelajaran digunakan sebagai pedoman manual bagi guru untuk melaksanakan pembelajaran dan juga sebagai acuan utama bagi siswa untuk belajar.

Dilihat dari uraian tersebut maka dapat dikatakan bahwa adanya buku teks pelajaran sangat berperan besar terhadap keberhasilan sebuah pembelajaran. Manfaat yang diperoleh dengan mengembangkan sebuah buku ajar pendamping yaitu didapatkan materi dan pembahasan yang lebih luas dan mendetail dari buku ajar pendamping. Di samping itu juga mendapatkan pengetahuan dan informasi yang lebih banyak, serta variasi ilmu pengetahuan yang disajikan lebih banyak dan beragam untuk dipelajari siswa. Alasan tersebut yang membuat pengembangan buku ajar penting untuk dilakukan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Seiring dengan perkembangan teknologi, sebuah buku tidak hanya berbentuk cetak. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa bahan ajar merupakah salah satu hal yang penting dalam keberhasilan suatu pembelajaran. Namun persoalan yang muncul adalah tenaga pendidik tidak sedikit yang mengalami kesulitan dalam menyusun bahan ajar sendiri.

Buku atau program audio, video, serta komputer berisi mata pelajaran yang dengan sengaja dirancang secara sistematis maka dinamakan bahan ajar. Namun jika tidak dirancang secara sistematis maka tidak bisa disebut bahan ajar walapun mengandung materi pelajaran. Itulah letak perbedaan bahan ajar dan bukan bahan ajar. Salah satunya dengan mengembangkan buku ajar Elinva (elektronik, interaktif, inovatif) berbasis audio, visual, serta kinestetik yang dapat meningkatkan hasil belajar IPA.

Dengan rancangan bahan ajar berbentuk digital Elinva, diharapkan peserta didik lebih semangat dalam melakukan pembelajaran melalui bahan ajar. Guru akan lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran dan peserta didik akan lebih terbantu dan mudah dalam belajar. Bahan ajar yang diberikan melalui media digital dan teknologi dapat mendukung peserta didik dalam kemampuan belajar serta memberikan kesempatan pendidikan yang lebih baik dan peserta didik yang lebih banyak.

Sintaks atau langkah-langkah pokok dalam pembuatan bahan ajar tersebut menurut Prastowo (2012: 50) antara lain. a) Melakukan analisis kebutuhan bahan ajar. Analisis bahan ajar diperlukan agar mengetahui suatu proses awal dalam menyusun bahan ajar.

b) Analisis sumber belajar. Cara menganalisis sumber belajar adalah dengan menginventarisasi ketersediaan sumber belajar yang dikaitkan dengan kebutuhan dan kriteria dalam menganalisis sumber belajar. Yaitu berdasarkan kesesuaian, ketersediaan, dan kemudahan dalam memanfaatkannya. c) Memilih dan menentukan bahan ajar. (*)