Bagaimana Memadukan Life Skill untuk Pembelajaran PPKN SMA?

Oleh: Agus Heri Winarno, S.Pd
Guru PPKn SMAN 1 Karangnongko, Kab. Klaten

PROGRAM sekolah menengah atas (SMA) didesain lebih cenderung mengutamakan perkembangan pada aspek kognitif peserta didik dibandingkan pada perkembangan aspek afektif dan aspek psikomotorik. Ada banyak pendapat dari pakar pendidikan yang mengatakan bahwa terlalu menekankan pendidikan akademik (kognitif) dan mengecilkan pentingnya pendidikan karakter atau kewarganegaraan (kecerdasan emosi) adalah penyebab utama gagalnya membangun manusia yang berkualitas.

Kecakapan hidup (life skill) adalah pelaksanaan pendidikan yang tercermin dalam kurikulum yang mampu memberikan bekal keterampilan hidup bagi peserta didik. Kecakapan hidup merupakan gagasan inovatif yang lahir dari adanya kebutuhan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar mampu mengembangkan dirinya dalam kehidupan nyata. Jadi, secara umum makna dari kecakapan hidup adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mengatasi dan menemukan solusi secara proaktif dan kreatif untuk kehidupan yang lebih baik.

Departemen Pendidikan Nasional tahun 2002 dalam bukunya Anwar (2004: 28) secara konseptual mengelompokkan kecakapan hidup ke dalam beberapa aspek sebagai berikut. 1) Kecakapan mengenal diri atau sering juga disebut kemampuan personal. 2) Kecakapan berfikir rasional atau kecakapan akademik.

3) Kecakapan sosial. 4) Kecakapan vokasional, yang sering juga disebut dengan keterampilan kejuruan. Artinya keterampilan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu dan bersifat spesifik.

Mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PPKN) bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut (Arnie Fajar, 2005:143): 1) Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan. 2) Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab; bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; serta anti korupsi.

3) Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya. 4) Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Menurut Sanjaya (2006:168), manfaat penggunaan media pembelajaran pada pendidikan kewarganegaraan yaitu: 1) Menangkap suatu objek atau peristiwa-peristiwa tertentu. Peristiwa-peristiwa penting atau objek yang langka dapat diabadikan dengan foto, film, atau direkam melalui video atau audio. Kemudian peristiwa itu dapat disimpan dan dapat digunakan manakala diperlukan.

2) Memanipulasi keadaan, peristiwa, atau objek tertentu. Melalui media pembelajaran, guru dapat menyajikan bahan pelajaran yang bersifat abstrak menjadi konkret. Sehingga mudah dipahami dan dapat menghilangkan verbalisme. Misalkan untuk menyampaikan pelajaran tentang batas-batas wilayah negara Indonesia.

3) Menambah gairah dan motivasi belajar siswa. Penggunaan media dapat dapat menambah motivasi belajar siswa sehingga perhatian terhadap materi pembelajaran dapat lebih meningkat. Sebagai contoh guru memutarkan video tentang dampak dari tidak tertibnya mentaati peraturan lalu lintas.

Kondisi SMA Negeri 1 Karangnongko Klaten mempunyai potensi untuk mengembangkan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan menggunakan pendekatan life skill guna meningkatkan kualitas peserta didik. Hal ini tercermin setelah peneliti melakukan observasi awal proses belajar mengajar, SMA Negeri 1 Karangnongko Klaten telah menerapkan proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan yang berbasis masalah. Sehingga sekolah ini secara tidak langsung telah menerapkan pembentukan life skill.

Pembentukan life skill yang diterapkan oleh dalam proses belajar mengajar. Terkhusus melalui pembelajaran pendidikan kewarganegaraan di SMA Negeri 1 Karangnongko dapat dilihat dalam perumusan perangkat pembelajaran yang berupa RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran) dan silabusnya. Yaitu dalam penggunaan berbagai model atau metode pembelajaran, penggunaan berbagai media dan sumber belajar, serta dapat dilihat dari cara guru dalam memberikan penilaian terhadap siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat mengembangkan life skill siswa tertaut pembelajaran. (*)