Belajar IPA Sekolah Dasar Lebih Cling dengan CLIS

Oleh: Herwati, S.Pd
Guru SD N 01 Banglarangan, Kec. Ampelgading, Kab. Pemalang

TRENDS International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 2015 menyatakan kemampuan IPA siswa di Indonesia berada pada poin 397 atau pada peringkat ke-45 dari 48 negara. Survei yang dilakukan oleh OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) juga menunjukkan dari 76 negara yang ikut berpartisipasi dalam tes PISA tahun 2015, Indonesia menempati posisi ke 69.

IPA merupakan pembelajaran yang memuat tentang pengetahuan tentang peristiwa di alam sekitar dengan melakukan observasi, eksperimen, penyimpulan, dan penyusuan teori. IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis dan terorganisir yang diperoleh melalui serangkaian proses ilmiah.

Proses pembelajaran IPA hendaknya dilaksanakan untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah, serta berkomunikasi sebagai aspek kecakapan hidup. Kemampuan siswa dalam memahami konsep dan mengembangkan keterampilan berpikir ditentukan oleh pemilihan model pembelajaran yang tepat.

Model dengan berlandaskan konstruktivisme dinilai tepat digunakan pada mata pelajaran IPA. Karena konstruktivisme mengandung unsur aktif, kreatif, efektif, serta menyenangkan. Siswa akan membangun pengetahuannya sendiri dan memperoleh pengalaman belajar dari apa yang dia lakukan sehingga tercipta pembelajaran yang bermakna.

Kurun waktu terakhir ini banyak terdapat penekanan pada keterampilan berpikir. Salah satunya disebabkan oleh adanya keterkaitan antara hasil belajar siswa dengan keterampilan berpikir. Muijs & Reynolds (2008) menyatakan bahwa keterkaitan antara keterampilan berpikir generik murid dan prestasinya dapat terjadi disebabkan oleh adanya perubahan masyarakat. Khususnya perubahan yang bergerak ke arah masyarakat dimana pengetahuan dan informasi menjadi semakin membludak.

Salah satu model pembelajaran yang berlandaskan model konstruktivisme adalah model children learning in science (CLIS). Mengajarkan pembelajaran IPA akan lebih bermakna jika siswa sendirilah yang berproses secara utuh dalam memahami berbagai fenomena-fenomena alam dan kegiatan pemecahan masalah serta metode ilmiah yang digunakan.

Driver (1988) menyatakan bahwa pembelajaran IPA harus dapat memperbolehkan dan mendorong anak untuk mengalami sendiri dan pembelajaran haruslah menyenangkan. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan cara menjadikan seorang anak berkelakuan seperti seorang ilmuan.

Pemahaman konsep siswa akan terasah jika mereka bertindak layaknya seorang ilmuwan. Mereka melakukan seluruh kegiatan pembelajaran layaknya para ilmuan dalam percobaan, namun dalam situasi yang berbeda.

Pembelajaran dengan menggunakan model CLIS dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat mengungkapkan gagasan atau ide awal secara lebih menyeluruh. Sehingga akan tercipta pembelajaran yang menyenangkan dan nyaman.

Siswa tidak akan merasa bosan dengan pembelajaran IPA yang banyak menuntut siswa untuk mempelajari fakta-fakta konkret guna menciptakan produk IPA yang berkaitan dengan data observasi. Seperti konsep, prinsip dan teori.

Siswa akan melakukan kegiatan secara langsung. Sehingga mereka akan menemukan sendiri konsep ilmiah melalui penemuan yang mereka lakukan. Siswa akan merasa tertarik pada pembelajaran IPA karena mereka dapat memperhatikan dan mempelajari gejala dan peristiwa alam. Yakni dengan selalu ingin mengetahui apa, bagaimana, dan mengapa gejala tersebut dapat terjadi serta apa hubungannya dengan manusia.

Model CLIS menjadikan siswa terlibat secara langsung dalam pembelajaran sehingga pemahaman dan hasil belajar siswa akan lebih baik dari pada pembelajaran konvensional. Berdasarkan dari hasil evaluasi dan temuan-temuan peneliti bahwa peranan model CLIS memberikan pemahaman konsep yang lebih mendalam serta mempengaruhi keterampilan berpikir siswa. Sehingga dapat disimpulkan terjadi pergeseran profil keterampilan berpikir dan pemahaman konsep siswa setelah mengikuti pembelajaran CLIS.

Harapannya, CLIS berpengaruh pada keterlaksanaan pembelajaran model CLIS dengan sangat baik. Kemudian terjadi pergeseran profil keterampilan berpikir dan pemahaman konsep, peningkatan aktivitas siswa, dan respon siswa baik. (*)