Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa dengan Mendongeng Media Wayang Bayangan

Oleh: Fella Ulya Fahma
Guru SDN Pundenarum 1, Kec. Karangawen, Kab. Demak

EMPAT jenis aspek yang menjadi dasar dari keterampilan berbahasa yaitu menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Keempat aspek tersebut saling berkaitan untuk berlangsungnya proses komunikasi. Menurut Djargo Tarigan, dkk (1985), berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan kepada orang lain. Berbicara identik dengan penggunaan bahasa secara lisan.

Tujuan utama berbicara adalah berkomunikasi. Sehingga banyak diungkapkan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, sayogyanya si pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikannya. Dia harus mampu mengevaluasi efek komunikasi yang dilakukan terhadap para pendengarnya. Dia juga harus mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari segala situasi pembicaraan. Baik secara umum maupun perorangan.

Untuk memiliki keterampilan berbicara yang baik, siswa perlu dilatih dalam segi pelafalan, pengucapan, intonasi, pemilihan kata, dan penggunaan bahasa yang baik. Adapun empat komponen yang harus diperhatikan dalam keterampilan berbicara yaitu, fonologi (bunyi), struktur kalimat, kosakata, dan kelancaran. Secara umum, tujuan pembelajaran keterampilan berbicara yaitu siswa mampu mengomunikasikan ide atau gagasan dan pendapat secara lisan ataupun sebagai kegiatan mengekspresikan ilmu pengetahuan, pengalaman hidup, ide, dan lain sebagainya.

Siswa kelas tinggi khususnya kelas VI seharusnya sudah memiliki keterampilan berbicara secara logis. Namun kenyataannya beberapa siswa masih ragu-ragu berdiri dihadapan teman sekelasnya. Bahkan tidak jarang melihat beberapa siswa canggung bahkan berkeringat dingin, berdiri kaku, lupa segalanya bila ia berhadapan dengan sejumlah siswa lainnya. Oleh karena itu, dibutuhkan pelatihan dan pendampingan yang tepat untuk memecahkan masalah tersebut.

Pada umumnya siswa mengalami hambatan ketika mereka diberikan tugas oleh guru untuk mengemukakan pendapat atau cerita di depan kelas. Mereka mengalami kesulitan dalam mengungkapkan ide, kurang menguasai materi atau cerita yang diberikan oleh guru, kurang membiasakan diri untuk berbicara di depan umum, kurangnya rasa percaya diri pada siswa, dan kurang mampu mengemukakan pendapat.

Mengatasi permasalahan tersebut, mendongeng adalah strategi untuk mengembangkan imajinasi siswa serta melatih siswa dalam berbicara. Manfaat mendongeng yaitu memudahkan penanaman nilai dan karakter, menumbuhkan kreativitas, serta meningkatkan imajinasi. Selain itu mendongeng bertujuan membentuk perilaku yang baik dan menanamkan nilai budi pekerti kepada anak agar memiliki keseimbangan dan perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Asfandiyar (2007) menyatakan bahwa dongeng merupakan salah satu cara efektif untuk mengembangkan aspek kognitif, afektif, sosial, dan aspek kognitif anak-anak. Media mendongeng bemacam–macam. Contohnya buku, boneka, tangan, dan wayang bayangan.

Siswa tidak langsung diperintahkan mendongeng. Pertama, guru memberikan buku bacaan kepada siswa untuk membangun imajinasi dahulu. Kemudian mencontohkan mendongeng di depan kelas terlebih dahulu. Selanjutnya guru bersama siswa membuat media wayang bayangan, yaitu 1) Ajak siswa membangun ide karya. 2) Siapkan alat berupa pensil, pulpen, spidol, cat air, akrilik atau poster, kertas karton atau kardus, bambu, kain layar, serta lampu senter. 3) Buat sketsa tokoh pada kertas. 4) Potong sesuai garis luarnya. 5) Lubangi bagian rongga agar tampil sebagai bayangan. 6) Beri warna. 7) Buatlah pegangan dari bambu.

Adapun cara memainkannya: 1) Bentangkan layar dari kain. 2) Sorot lampu dari arah belakang. 3) Mainkan tokohnya sesuai cerita. 4) Iringi dengan musick. 5) Tonton dari depan atau belakang layar.

Guru terlebih dahulu menyontohkan mendongeng dengan media wayang bayangan tersebut. Setelah itu diskusi tanya jawab mengenai karakter, alur, dan amanat. Pertemuan berikutnya siswa berlatih mendongeng dengan wayang bayangan karya sendiri agar memiliki rasa bangga terhadap karyanya yang layak ditampilkan di depan guru dan teman–temannya. (*)