Pembelajaran Asmaul Husna dengan Kartu

Oleh: Asih Wijayanti, S.Pd.I
Guru PAI SDN 04 Sokawangi, Kec. Taman, Kab. Pemalang

DILIHAT dari perspektif manusia sebagai makhluk sosial, maka manusia harus memiliki dasar kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan. Pendidikan merupakan sebuah usaha yang dapat membantu perkembangan kemampuan seseorang agar dapat bermanfaat bagi hidupnya.

Pencapaian kompetensi dalam pendidikan tidak akan mungkin terjadi jika tidak melibatkan secara langsung di dalam pembelajaran. Tujuan tiap satuan pendidikan harus mengacu kearah pencapaian tujuan pencapaian nasional. Sebagaimana telah ditetapkan dalam Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab (Muhammad Zaini, 2009:81).

Menulis merupakan suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara (Alex dan Ahmad, 2011:106). Selanjutnya Henry Guntur Tarigan (2008:22) berpendapat bahwa menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang. Sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Dalam sebuah lembaga pendidikan, seorang pendidik mestinya merencanakan pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif di dalam proses pembelajaran. Partisipasi peserta didik di dalam pembelajaran akan menentukan keberhasilan pendidik dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan.

Peserta didik dinyatakan belajar jika terjadi perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan dalam dirinya yang dikehendaki sebagai hasil yakni terdiri dari aspek kognitif, afektif, dan aspek psikomotorik.

Aspek kognitif berkaitan dengan panguasaan pengetahuan baru.  Kemudian aspek afektif berkenaan dengan pengmbangan sikap dan minat baru atau penyempurnaan sikap dan minat yang telah dimiliki. Sedangkan aspek psikomotorik berhubungan dengan penguasaan

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Dalam pembelajaran pendidikan agama Islam diajarkan materi tentang Asmaul Husna (Nama-nama Baik bagi Allah). Dalam proses pembelajaran tersebut didapatkan banyak siswa yang sulit untuk menghafal asmaul husna.

Salah satu faktor yang menjadi penyebab adalah guru hanya menggunakan metode yang konvensional atau hanya ceramah saja. Sehingga siswa menjadi kurang semangat dan cenderung pasif dalam mengikuti pembelajaran.

Tidak tercapainya kompetensi materi asmaul husna tersebut bisa dilihat dari hanya 7 anak yang memcapai nilai diatas KKM dari 30 siswa kelas 5. Sehingga ketuntasan hanya sebesar 23%.

Guru atau pendidik berupaya agar siswa memahami dan menikmati pembelajaran asmaul husna ini sebagai pembelajaran yang menyenangkan, maka digunakanlah teknologi sebagai media pembelajaran. Penggunaan media ini berupa kartu untuk meningkatkan minat belajar anak tingkat SD, yaitu penggunaan media kartu.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Menurut Susilana dan Riyana (2009:95), media kartu memiliki kelebihan yaitu a) Kemudahan saat dibawa karena ukuran kartu yang kecil sehingga mudah disimpan di dalam tas bahkan saku. b) Sangat praktis jika dilihat dari cara pembuatan media kartu dan penggunaan media kartu. c) Kemudahan bagi siswa untuk mengingat karakteristik kartu. d) Menyenangkan dalam penggunaan media kartu.

Cara menggunakan media kartu dalam pembelajaran sangat mudah. Yaitu pertama kartu-kartu yang sudah disusun dipegang setinggi dada dan menghadap ke depan siswa. Kedua, cabutlah satu persatu kartu tersebut setelah guru menerangkan.

Ketiga, berikan kartu-kartu yang telah diterangkan tersebut kepada siswa yang duduk didekat guru. Mintalah siswa untuk mengamati kartu tersebut satu persatu, kemudian teruskan kepada siswa yang lain. Keempat, jika disajikan dalam permainan, letakkan katu-kartu tersebut di dalam sebuah kotak secara acak dan tidak perlu disusun. (*)