Penanaman Nilai Religius Bersyukur dengan Pembiasaan Berucap Alhamdulillah

Oleh: Musyaropah, S.Pd.I
SD N 04 Klareyan, Kec. Petarukan, Kab. Pemalang

PENANAMAN nilai-nilai karakter merupakan suatu visi dan misi pada setiap lembaga pendidikan. Dalam proses belajar mengajar, untuk mengukur penerapan materi sebagai indikator keberhasilan, guru memberikan tugas-tugas. Baik secara tulis maupun lisan. Namun hal itu direspon oleh anak dengan penolakan, tawaran, dan keluhan. Untuk mengatasi hal tersebut, alternatif solusinya yaitu dengan pendidikan karakter.

Penanaman karakter diperlukan supaya siswa menerima tugas-tugas dari guru dengan senang hati, ikhlas, dan sadar akan tanggung jawab sebagai seorang siswa. Pendidikan karakter melalui penanaman nilai-nilai religius dengan selalu bersyukur berucap Alhamdulillah di setiap keadaan menjadikan jiwa tenang dan tidak mengeluh terhadap tugas-tugas yang harus diselesaikan. Suyanto (dalam Kurniawan, 2013:33) menyebut bahwa pendidikan dasar menjadi pondasi dalam menanamkan karakter kepada peserta didik pada usia dini dan sekolah dasar.

Nilai religius merupakan salah satu nilai karakter yang dijadikan sebagai sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama. Nilai religius yang diajarkan sebagai pondasi dalam bertauhid yaitu penanaman nilai syukur dengan pembiasaan berucap Alhamdulillah.

Ghaali (2009:472) menjelaskan tiga bagian syukur. Yaitu syukur hati, lisan, dan melalui perbuatan. Hal ini juga didukung oleh Shihab (1996:215) yang menyebutkan bahwa syukur mencakup tiga sisi. Yaitu syukur hati atau perasaan, dengan lisan atau ucapan, dan dengan perbuatan.

Syukur melalui hati yaitu yakin bahwa nikmat yang diperoleh semata-mata karena kebaikan Allah SWT. Sehingga anugerah apapun dikembalikan kepada kebaikan Allah SWT dengan mengucapkan Alhadulillah.

Manfaat bersyukur dijelaskan dalam surah An Naml Ayat 40. Husna (2013:28) juga dalam bukunya menjelasan lima manfaat syukur. Di antaranya menuntun hati untuk ikhlas, tumbuhnya rasa optimisme. Kemudian membaiknya kuaitas hidup seseorang, membentu hubungan persahabatan yang lebih baik, dan mendatangan pertolongan Allah SWT.

Guru pendidian agama Islam dan budi pekerti (PAIBP) mengajaran siswanya untuk membiasakan mengucap Alhamdulillah sebagai bentuk syukur dan penerapan nilai religius.   Dengan pembiasaaan berucap Alhamdulillah, jiwa anak-anak  lebih lembut, sabar, dan ikhlas. Siswa sudah menyadari bahwa dengan patuh terhadap perintah guru di sekolah dan selalu belajar akan menjadi pintar dan mendapat rida Allah. (*)