Peran Guru BK dalam Pendampingan Siswa Inklusif

Oleh: Sri Kustianingsih S.pd
Guru BK SMAN 1 Mranggen, Kab. Demak

BERDASARKAN Permendikbud Nomor 70 Tahun 2009, pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan bersama dengan peserta didik pada umumnya. Lahirnya pendidikan inklusif dalam proses pendidikan adalah suatu alternatif jawaban dari semboyan pendidikan yaitu “Pendidikan untuk Semua”. Hal tersebut mengandung makna bahwa proses tranformasi pendidikan yang terbuka dan ramah terhadap siapa saja tanpa terkecuali.

Perlu diketahui bersama, keterbukaan pendidikan menjadi titik awal pemikiran pelaksanaan pendidikan yang logis dan sehat, tanpa adanya permasalahan terkait diskriminasi terhadap siswa berkebutuhan khusus. Menumbuhkan rasa simpati dan empati pada guru, karyawan dan siswa untuk selalu memberi perhatian penuh pada siswa inklusif terutama guru BK merupakan ujung tombak dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka menjadikan hubungan yang dinamis dan harmonis bagi siswa siswa inklusif dan warga sekolah.

Guru BK memberi kontribusi yang sangat besar bagi kenyamanan siswa inklusif, penyeimbang dalam segala aspek baik kognitif, afektif, dan psikomotorik. Layanan bimbingan dan konseling dalam institusi pendidikan sekolah hendaknya dapat proaktif dan sistematik dalam memfasilitasi siswa mencapai tingkat perkembangan yang optimal sesuai fungsi dan manfaat siswa dalam lingkunganya.

Guru bimbingan dan konseling di harapkan dapat memberikan pelayanan yang telah disesuaikan dengan kebutuhan siswa inklusif sehingga mereka dapat mengenali diri dan apa yang menjadi hambatanya. Dengan begitu, perkembangan siswa menjadi optimal.

Dalam perkembangan individu yang optimal, dibutuhkan guru bimbingan dan konseling yang dapat memfasilitasi pengentasan permasalahan tugas perkembangan siswa inklusif. Peran guru BK antara lain mengimplementasikan pelayanan bimbingan dan konseling yang disesuaikan dengan kemampuan, bakat, minat serta jenis kelainan, ketunaan, kelainan, kekhususan yang dimiliki siswa inklusif. Berikutnya mengklasifikasikan siswa inklusif dalam kelompok kegiatan dan pengembangan diri yang telah disesuaikan dengan karakter siswa masing–masing.

Guru bimbingan dan konseling memberikan arahan dan motivasi kepada siswa inklusif untuk terus aktif dalam kegiatan kelompok dan pengembangan diri. Kemudian memberikan layanan informasi terkait peran gender yang disesuaikan dengan karakter siswa inklusif. Lalu mengajak siswa inklusif untuk memahami peran pria dan wanita yang ada di lingkungan masyarakat, serta mendiskusikan hal tersebut. Selanjutnya membimbing peserta didik dan siswa inklusif untuk dapat memilih karir di sekolah. Yaitu memfasilitasi siswa dalam memahami diri dan lingkungannya dalam mengambil keputusan, perencanaan, dan pengarahan kegiatan–kegiatan yang menentukan arah karir.

Dengan berbagai macam alasan dan permasalahan yang terjadi, maka peran guru BK dalam pendampingan siswa inklusif diharapkan mampu mengimplementasikan pelayanan bimbingan dan konseling. Di samping itu memberikan arahan dan motivasi kepada siswa inklusif dan siswa normal untuk terus aktif dalam pengembangan dirinya di sekolah. Kekompakan dan bersinergi dalam memotivasi diri satu sama lain sangat diperlukan guna terciptanya perkembangan diri siswa baik inklusif maupun normal. Sehingga apa yang menjadi cita–citanya akan tercapai. (*)