Cegah Anxiety dengan Kegiatan Positif

Probowatie Tjondronegoro, Psikolog
Psikolog Probowatie Tjondronegoro. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng –  Berdasarkan data dari Laporan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), pada 2022 sebanyak 3,7 persen anak remaja di Indonesia mengalami gangguan kecemasan (anxiety disorder). Menanggapi hal itu, Psikolog Semarang, Probowatie Tjondronegoro mengungkapkan bahwa anxiety dapat dicegah dengan melakukan banyak kegiatan yang positif. Seperti mengikuti ekstrakurikuler di sekolah, organisasi di lingkup rumah seperti Karang Taruna, dan masih banyak lagi.

Dalam penuturannya, anxiety merupakan gangguan mental kecemasan yang dipendam sendiri oleh manusia. Hal itu disebabkan, karena anak remaja tidak memiliki waktu dan teman untuk mencurahkan apa yang ingin diutarakannya.

Baca juga:  Nakes Diminta Bijak Bersosial Media

“Jadi bumpet (buntu, Red.). Bahkan solusi yang tepat bagi dia akhirnya memilih untuk melakukan bunuh diri. Ya karena tidak ada saluran untuk berbicara dan tidak ada kegiatan yang ia salurkan. Misalnya ada anak SD bunuh diri itu ada karena bisa dari tuntutan prestasi, akhirnya karena dia merasa gak bisa berprestasi. Padahal dia sendiri mungkin tidak tahu artinya bunuh diri apa,” ucapnya saat dihubungi Joglo Jateng, Minggu (20/8/23).

Dirinya mengaku, dalam pekerjaannya sebagai psikolog tidak sedikit anak remaja yang sering berkonsultasi dan bercerita kepadanya. Baik soal pribadi maupun keluarga.

Baca juga:  Nakes Diminta Bijak Bersosial Media

“Begitu mereka (anak remaja, Red.) cerita ya saya bilang ‘ya sudah yang penting kamu belajar’. Dan kadang orang tua pun tidak menyadari kalau kita mau merubah tidak bisa satu arah. Harus dua arah antara anak dan orang tuanya,” terangnya.

Menurutnya, usia remaja merupakan saat untuk mencoba sesuatu yang baru. Lantaran dari segi fisik, tenaga, dan semangatnya masih kuat untuk menyalurkan potensinya di bidang yang disukai. Termasuk melalui kelompok belajar.

“Dengan kelompok belajar pun itu juga butuh pengarahan dari ortu. Kadang kita sebagai ortu juga tidak kenal dengan anak sendiri. Makanya dia butuh mengekpresikan diri,” ujarnya. (cr7/mg4)