Menumbuhkan Rasa Percaya Diri pada Siswa Inklusif

Oleh: Sri Kustianingsih
Guru BK SMAN 1 Mranggen, Kab. Demak

KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus berupaya untuk memberikan akses pendidikan kepada anak–anak berkebutuhan khusus. Yakni dengan membangun unit sekolah baru dan mendorong tumbuhnya sekolah inklusif di daerah–daerah.

Upaya pemerintah untuk mensejajarkan antara siswa yang berkebutuhan khusus dan yang normal untuk mendapatkan pendidikan yang sama patut diacungi jempol. Karena telah menganggap bahwa manusia itu sama dan berhak untuk mendapatkan sarana dan prasaran atau fasilitas pendidikan dari pemerintah.

Pendidikan inklusif diharapkan mampu mengatasi kesenjangan pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus. Karena anak–anak berkebutuhan khusus juga memiliki potensi yang patut dikembangkan.

Para orang tua percaya bahwa sekolah inklusif dapat meningkatkan keterampilan sosial dan komunikasi pada anak. Dikarenakan saat anak di sekolah akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk dapat berinteraksi dan bermain dengan anak lain. Siswa inklusif merasa jauh lebih bisa diterima di antara teman sebayanya yang normal dan mengarah pada perkembangan positif. Dalam hal ini tentunya dibutuhkan kepercayaan diri bagi siswa inklusif untuk berbaur dengan siswa lain.

Siswa inklusif akan tumbuh rasa percaya diri jika orang–orang disekitarnya mempunyai rasa simpati dan empati yang tinggi juga men-support penuh kehadiran anak inklusif. Maka diperlukan kerja sama di antara warga sekolah. Yaitu dewan guru, karyawan, juga siswa di sekolah tersebut.

Menumbuhkan rasa percaya diri membutuhkan waktu, kesabaran, dan tahapan–tahapan tertentu agar anak dapat berinteraksi dan beraktivitas dengan lingkungan di sekitarnya dengan penuh rasa semangat. Para warga sekolah perlu memahami pentingnya memberikan motivasi pada anak inklusi dengan memperhatikan sistem akomodasi pembelajarannya. Ini berkaitan dengan cara dalam memberikan intruksi, bentuk tugas atau materi belajar, waktu, dan jadwalnya. Sehingga manajemen dalam pemberian pemberian tugas sekolah tidak memberatkan dan anak tidak terlalu ketinggalan dengan siswa yang lainnya. Sehingga anak tidak terlalu rendah diri dalam pembelajaran di kelas karena keterbatasan. Anak inklusi akan merasa keberadaannya sangat dihargai sebagai mana siswa yang normal pada umumnya tanpa melihat kekurangan yang dia miliki.

Banyak hal dan upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa percaya diri siswa inklusif. Antara lain dengan memberikan kepercayaan, memberikan keberasan pada anak inklusif untuk mengekpresikan dirinya. Kemudian memberikan kesempatan untuk menemukan batasan sosial atau kekuatan mereka sendiri, memberi pujian, dan perhatian penuh. Lalu memberikan reinforcement atau penguatan dengan memberikan reward secara tepat yang didasarkan pada prinsip–prinsip pengubahan tingkah laku dengan penguatan yang dilakukan pendidik. Dengan begitu, peserta didik akan semakin kaya dengan berbagai tingkah laku positif secara komulatif dan sinergis untuk menunjang keaktifan siswa serta pencapaian tujuan.

Pendidikan mendorong siswa melanjutkan aksi baik. Dalam pemberian motivasi untuk melanjutkan aksi maupun kemauan serta konsistensi, orang tua memberikan kepercayaan pada anak dalam mengerjakan. Karena anak inklusi biasanya emosinya tidak stabil. Sebagai penyeimbang, orang–orang di sekitarnya sebagai penguat kepercayaan dirinya perlu untuk memahami perkembangan siswa inklusi itu sendiri. Yaitu dengan mengikutsertakan anak inklusi dalam berbagai kerja sama belajar kelompok serta bergaul dengan siswa yang normal. (*)