Kenalkan Kota Baru sebagai Destinasi Heritage Yogyakarta

SUASANA: Pengunjung melihat pameran Rasam Riwayat Kota di Tekodeko Koffiehuise kawasan Kota Lama Semarang, Selasa (22/8/23). (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta menggelar pameran bertajuk “Rasam Riwayat Kota” di Tekodeko Koffiehuise kawasan Kota Lama Semarang, Selasa (22/8/23). Pameran yang digelar mulai 22 Agustus hingga 25 Agustus 2023 mendatang ini, untuk memperkenalkan komplek Kota Baru dengan bangunan heritage-nya.

Terdapat 15 gambar dipamerkan yang bercerita tentang situasi Kota Baru dari waktu ke waktu. Gambar tersebut merupakan hasil jepretan dari fotografer asal Yogyakarta sendiri yang sangat lekap pada tema yang diangkat.

Pembukaan pameran dilakukan secara simbolis dengan pemukulan kentongan yang dilakukan oleh Pengelola Rumah Pohan Ika Camelia, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti dan Pengelola Tekodeko Jessie Setiawati.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti mengatakan pameran ini merupakan kolaborasi antara pemerintah kota Yogyakarta dengan Rumah Pohan dan Tekodeko.

Adapun dipilihnya kompleks Kota Lama sebagai tempat pameran bukan tanpa alasan. Menurutnya, Kota Lama dan Kota Baru memiliki kesamaan arsitektur serta budaya yang serupa. Hanya saja, jika di masa lalu Kota Lama diperuntukkan sebagai kawasan industri, Kota Baru digunakan untuk kawasan hunian bagi penduduk Belanda.

Baca juga:  Awas! Organisasi Ini bakal Hajar Serangan Fajar pada Pilkada 2024

“Kerjaan sama kebudayaan antara Rumah Pohan dan Tekodeko, menjadi bagian program kami dalam rangka pengembangan kebudayaan Jogjakarta. Disini kita pamerkan gambaran dari Kota Baru dari masa ke masa, ada kesamaan dari arsitektural dan budaya dengan kota lama,” kata Yetti dalam sambutannya dalam pembukaan pameran.

ACARA: (Dari kiri) Perwakilan Forum Komunikasi Warga Kota Lama Tjahyono Raharjo, Pengelola Rumah Pohon Ika Camelia, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, Pengelola Tekodeko Jessie Setiawati, dan Perwakilan asosiasi masyarakat mbangun oudestadt (AMBO) Bharoto.

Yogyakarta dikenal memiliki empat kawasan cagar budaya, salah satunya adalah Kota Baru. Di mana hingga kini bangunan yang ada masih difungsikan dengan baik. Pihaknya pun mengaku tengah menggejot perkembangan di kawasan tersebut untuk mem-branding bahwa tempat wisata di Kota Pelajar tersebut beragam, tak hanya Malioboro.

“Dulu Kota Baru adalah industri gula yang berkembang, serta ada hunian yang lengkap fasilitasnya, mulai dari pendidikan, rumah sakit, sampai sport senter. Dari masa ke masa hingga kini masih lengkap dan difungsikan dengan baik. Sehingga kami dari pemerintah juga mencoba melengkapi dengan branding Kota Baru, jadi di Yogja ikon tak hanya Malioboro saja,” paparnya.

Baca juga:  Rupiah Borobudur Playon 2024 Donasikan Rp 450 Juta untuk Masyarakat

Yetti menyebut, ada empat daya tarik untuk mempromosikan Kota Baru. Antara lain adalah heritage, garden city, premium, dan keindahan suasana pada malam hari. Oleh karena itu, pihaknya berusaha memaksimalkan penggunaan segala yang sudah ada di sana.

“Kita harus mengaktivasi kepentingan apapun, baik art galeri, tempat ngopi karena dulu konsep Belanda setelah pertemuan pada ngopi. Jadi memanfaatkan dan melestarikan dengan baik pengembangan kebudayaan berjalan dengan baik dan berkelanjutan. Kami harap Yogja dan Kota Semarang bisa bekerjasama,” tandasnya.

Kurator Pameran, Fajar Wijanarko memaparkan bahwa Kota Baru merupakan kawasan yang tersentralisasi. Di mana lokasinya benar-benar di bagian tengah dari Yogyakarta yang menghubungkan antara bagian selatan dan bagian utara. Bagian selatan mungkin kita bisa tandai dengan keraton, bagian utara kita bisa menandai Universitas Gajah Mada (UGM).

Baca juga:  Pemprov Jateng Sambut Baik Empat Raperda Baru

Hari ini, lanjut Fajar, ketika ke Kota Baru wisatawan bisa menikmati gerai kopi yang dibangun sebagai respon pemanfaatan kawasan cagar budaya, seperti halnya Kota Lama. Ada berbagai cafe dan gerai kopi yang memang pada saat ini didukung sebagai bagian dari upaya untuk mendorong pemanfaatan cagar budaya agar tidak mati, agar tidak terbengkalai dan lain sebagainya.

“Ada pula pemanfaatan ruang yang dalam bentuk ruang kesehatan, pendidikan ada rumah sakit, kemudian ada sekolah, dan ruang-ruang pertemuan, kemudian ada perpustakaan, ada rumah peribadatan yang fingsinya benar-benar dipertahankan, dan ada penambahan bangunan seperti halnya Masjid Syuhada yang dibangun dikemudian hari setelah Kota Baru tersebut sudah hadir di tahun 1951,” paparnya. (ara/gih)