Demak  

Tumbuhkan Rasa Toleransi, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Adakan Seminar Moderasi Beragama Bersama Masyarakat Desa Tegalarum

FOTO BERSAMA: Mahasiswa KKN MIT ke-16 Posko 129 UIN Walisongo bersama tokoh agama di Desa Tegalarum, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak. (ARIZKI/JOGLO JATENG)

DEMAK, Joglo Jateng – Mahasiswa KKN MIT ke-16 Posko 129 UIN Walisongo Semarang berkolaborasi dengan Irmas Baitul Muttaqin mengadakan kegiatan Istighosah dan Seminar Moderasi beragama untuk menumbuhkan rasa toleransi antarsesama masyarakat di Desa Tegalarum, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak.

Seminar ini mengusung tema Peran Moderasi Beragama untuk Mencegah Sikap Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme. Berlangsung di Masjid Baitul Muttaqin Desa Tegalarum pada Jum’at (11/8/2023) pukul 20.00.

Mahasiswa mengundang para tokoh agama di sekitar masjid untuk mengisi istigasah, dan dihadirkan pula Dr. K.H. Kasmuri, M.Ag. yang merupakan salah satu dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang untuk mengisi materi tentang moderasi beragama.

Baca juga:  Disinggung Soal Persiapan Pilkada, Begini Kata Bupati Demak Esti’anah

Kasmuri dalam penyampaian materinya mengatakan bahwa kedamaian dan ketenteraman bisa diperoleh dengan memahami karakteristik orang lain.

“Agama Islam merupakan agama yang berada pada kedamaian. Jika ingin damai dan tentram, ya, kita harus bisa memahami karakteristik orang lain. Tidak berlebihan mengatakan bahwa kita benar, pintar, dan kemudian memaksakan kehendak orang lain,” terangnya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan, sebagai warga negara Indonesia kita harus mempertahankan kesatuan NKRI yang terdiri dari berbagai bangsa, kepulauan, agama, dan budaya dengan cara tidak ingin menang sendiri.

“Dan dengan hal itu, Insyaa Allah NKRI akan tetap eksis,” ujarnya.

Baca juga:  Pro Kontra Soal Study Tour, Dindikbud Demak Minta Sekolah Tak Boleh Memaksa

Selain itu, ia juga menerangkan cara untuk menjaga moderasi dalam beragama dengan sikap menghargai adanya perbedaan.

“Apabila perbedaan-perbedaan itu di kelola, maka akan menjadi kekuatan tersendiri. Dan semakin banyak adanya perbedaan, semakin banyak pula peluang untuk berkembang,” jelasnya. (arizki/mg4)