Gubernur DIY Panen Bawang Perdana Agro Electrifying

BAWANG: Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubawana X (dua dari kiri) bersama Bupati Bantul Abdul Halim Muslih (kiri) pada saat panen bawang perdana di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kamis (24/8/23). (MUHAMMAD ABU YUSUF AL BAKRY/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Kabupaten Bantul berhasil menerapkan teknologi agro electrifying, untuk panen perdana bawang merah di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul, Kamis (24/8). Dengan hasil yang melebihi rata-rata panen nasional.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwana X mengungkapkan, rasa bangganya terhadap pengembangan program tersebut. Sekaligus, mengingatkan warga agar tidak seluruhnya menggunakan lahan sebagai komoditas bawang merah.

“Harapannya, kedepan dapat mengembangkan sekitar 2.000 sampai 2.500 meter lahan untuk digunakan dalam penanaman bibit lain. Sehingga, tidak terjadi yang namanya persaingan antar petani dan akan merusak harga pasar,”  ungkapnya.

Baca juga:  Incumbent Wajib Cuti saat Kampanye

Sementara itu, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyebutkan, inovasi baru ini akan terus di dorong agar pertanian di Bantul semakin modern, efektif, efisien dan produktif. Serta, diharapkan dapat menyejahterakan petani setempat.

“Bantul sendiri memiliki sejumlah komoditas pertanian, meliputi bawang merah, cabai, padi, jagung, kedelai dan kacang tanah. Maka dari itu, diharapkan mampu untuk menyejahterakan petani,” tuturnya.

Pihaknya menambahkan, hal ini didasarkan pada luas lahan yang digunakan sebagai komoditas bawang merah yang mencapai 1.360 hektar. Jumlah tersebut hampir 10 persen dari total lahan pertanian.

Baca juga:  BKSAP DPR RI Gelar BKSAP Day di ISI Yogyakarta: Diplomasi Budaya untuk Memperkuat Hubungan Internasional

“Sehingga, komoditas bawang merah di Bantul telah ditetapkan menjadi salah satu komoditas dalam lumbung pangan nasional. Keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras petani yang penuh semangat dan dedikasi,” imbuhnya.

Sedangkan, Ketua Gapoktan Paris Makmur, Bambang Junaidi menyampaikan, pendekatan agro electrifying telah diimplementasikan dalam jangka 821 meter. Dari total panjang sekitar 600 meter yang dialokasikan untuk lahan persawahan.

“Sementara, sisanya digunakan pada area tanah pasir. Sehingga penerapan teknologi agro electrifying telah memberikan manfaat besar dalam mengurangi biaya produksi bahan bakar bagi komunitas,” paparnya.(cr11/sam)