Kudus  

UMKM Kerajinan Bambu Siap Jangkau Mancanegara

Kepala Desa Jepang, Indarto.
Kepala Desa Jepang, Indarto. (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) kerajinan bambu milik Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus siap menjangkau mancanegara. Hal itu harus digenjot melalui inovasi produk yang dilakukan oleh pelaku UMKM.

Kepala Desa Jepang, Indarto menyampaikan, UMKM yang pihaknya kembangkan adalah usaha yang secara turun menurun sudah ada sejak dulu. Bahkan sudah menjadi ciri khas atau ikon Desa Jepang.

Contohnya, produk UMKM kerajinan bambu. Baik anyaman maupun produk lainnya yang bahan pokoknya dari bambu.

“Selain itu kami dorong inovasi produk. Kalau produk masih stagnan, untuk peralatan rumah tangga untuk nilai jualnya tak bisa tinggi,” ungkapnya kepada Joglo Jateng, kemarin.

Baca juga:  Pemdes Gondangmanis Peringati Haul Raden Mas Datuk Singoproyo

Ia menyebut, dengan perkembangan zaman saat ini juga banyak produk sejenis yang berasal dari bahan lain. Seperti, plastik maupun alumunium. Hal itu sebagai hambatan tersendiri, karena produk mereka banyak dari pabrik. Tentunya untuk ongkos dan biaya produksinya berbeda.

“Karena mereka pakai mesin. Kalau untuk anyaman kan menggunakan tradisional. Artinya memakai tangan. Sehingga kami mendorong pelaku UMKM untuk membuat produk dari bambu yang punya nilai jual tinggi,” tuturnya.

Selain itu, untuk souvenir maupun untuk produk lain juga dapat memberikan nilai estetika tersendiri. Contohnya, baki lamaran. Dengan adanya inovasi produk itu tentunya akan berdampak pada nilai jual. Maka dia berharap, kesejahteraan pelaku umkm khususnya dari produk bambu bisa meningkat.

Baca juga:  Kandidat Cabup DPC PKB Kudus Mengerucut ke 5 Nama

“Jika bisa berjalan baik maka akan diikuti oleh UMKM lain untuk mengikuti jejak yang bersifat inovatif. Ada juga UMKM yang kami fasilitasi bagaimana mereka terkait sertifikasi produk, segera mendapat sertifikat. Yaitu fabrikasi untuk mobil off-road,” tukasnya.

Pihaknya juga menginginkan masyarakat Desa Jepang agar cinta produknya sendiri. Untuk itu, ia terus berupaya mencari formula. Entah itu sifatnya penunjukan salah satu lokasi untuk pilot projek ataupun memberikan bantuan peralatan per RT atau RW.

“Kita juga memberikan edukasi bagaimana produk bambu itu sebetulnya dari sisi dampak bahan baku tak menimbulkan gangguan kesehatan. Kita akan push untuk peralatan rumah tangga misalkan serok,” pungkasnya. (cr12/fat)