Seniman Semarang Minta Pembenahan TBRS Terus Berlanjut

DISKUSI: Sekretaris Daerah Kota Semarang, Iswar Aminuddin saat melakukan diskusi bersama dengan para seniman dan komunitas seni Kota Semarang di Area Makam Mbah Genuk (Wonderia-TBRS), beberapa waktu lalu. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Sejumlah seniman Semarang meminta kepada Pemerintah Kota Semarang (Pemkot) agar pembenahan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) terus berlanjut. Hal itu lantaran, ada beberapa fasilitas yang masih belum layak pakai. Salah satunya gedung pertemuan. Hal itu disampaikan pada diskusi publik dengan tema Bedah Taman Budaya dalam Perspektif Pembangunan Kota yang diselenggarakan oleh Komunitas Transportasi Kota (KOTTA) dan Dewan Kesenian Semarang (DEKASE).

Ketua Dekase Semarang, Adhitia Armitrianto mengukapkan bahwa keluhan dari para seniman terkait pembenahan pada fasilitas di TBRS sudah dilakukan sejak lama. Namun, saat ini yang baru terealisasikan yakni Gedung Ki Narto Sabdo.

Baca juga:  Aliansi Buruh Sepakat Dukung Mbak Ita

“Selain itu TBRS sekaligus menjadi taman terbuka hijau yang mana pohon-pohon tua ini tetap dipertahankan. Memang dulu wonderia dan TBRS ini jadi satu wilayah. Tapi kemudian nanti akan dijadikan satu lagi dengan Makam Mbah Genuk sebagai pusat kebudayaan dan wisata religi,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Semarang, Iswar Aminuddin menjelaskan bahwa keinginan untuk membuat TBRS menjadi ruang publik sudah diajukan sudah lama. Sehingga, dirinya akan mencoba mendiskusikan kembali dengan para seniman dengan ruang diskusi lebih formal.

“Saya lihat mereka menginginkan konsep yang sederhana. Begitupun dengan kita (pemkot, Red.). Artinya bangunan dari kita bisa berekspresi seni dan budaya dan bisa merasakan kebersamaan di lingkungan itu,” ujarnya.

Baca juga:  Pemkot Semarang Raih Penghargaan dari PBB

Pada Oktober mendatang, pihaknya akan merencanakan konsep parkir luas untuk bis parisiwata di area depan Wonderia. Sehingga, jika ada event sopir bis bisa parkir di area tersebut, sekaligus dapat menghidupkan kembali perekonomian masyarakat seperti kuliner, hingga souvenir khas Semarang.

“Pihak Distaru akan membuat DED-nya seperti nanti suara dari seniman mau konsepnya seperti apa,” pungkasnya. (cr7/mg4)