SMP IT LHI Siagakan SPAB untuk Antisipasi Bencana

SIAGA: Pelatihan SPAB yang dilakukan SMP IT LHI untuk mengantisipasi adanya bencana yang terjadi kedepannya. (HUMAS/JOGLO JOGJA)

DALAM mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana, SMP IT tengah mengembangkan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Hal ini sebagai respon terhadap tingginya risiko bencana gempa di wilayah Kabupaten Bantul.

Kepala Sekolah SMP IT Luqman Al Hakim Internasional (LHI), Fourzia Yunisa Dewi mengungkapkan, tujuan utama dari inisiatif ini untuk melindungi seluruh warga sekolah dari dampak buruk bencana, dengan meminimalisir risiko. Yang dibentuk pada semester saat ini dan telah mengadakan tiga pertemuan awal.

“Langkah awal ini melibatkan kolaborasi dengan berbagai individu yang kompeten dalam bidang tersebut. Beberapa pihak yang terlibat ada BPPD Bantul, Sekber BPPD Banguntapan, komite sekolah, serta guru dan karyawan lainnya,” ungkapnya.

Baca juga:  SMP 2 Undaan Fokus Raih Adiwiyata Nasional

Pihaknya menambahkan, pada semester ini rencananya akan diadakan hingga lima kali workshop kebencanaan. Dengan tujuan untuk merancang kerangka kerja SPAB yang akan diimplementasikan di sekolah.

“Selanjutnya, tiga pilar penting yang telah dievaluasi melalui self-assessment juga akan diperhatikan. Yang melibatkan komite, Sekber BPPD, serta kelurahan dalam memberikan dukungan kuat,” ucapnya.

Meskipun proses implementasi belum sampai ke siswa, harapannya akan melibatkan siswa dalam evaluasi dan materi pengulangan setiap tahun. Hal ini penting, mengingat siswa berganti setiap tahunnya.

“Tujuan akhir dari inisiatif ini membangun budaya kesadaran akan kebencanaan di sekolah. Sehingga, semua anggota komunitas menjadi peka terhadap bencana di masa depan,” tururnya.

Baca juga:  Dilantik, Lurah Tirtonirmolo Diminta Fokus Rumuskan Program

Saat ini sendiri, SPAB masih berfokus pada pelatihan bagi guru dan karyawan. Kedepannya akan disusun SOP yang lebih rinci, serta melakukan berbagai evaluasi lain yang diperlukan. Adapun tiga pilar utama yang dievaluasi adalah sarana fisik sekolah, sarana prasarana, seperti gedung, lapangan dan fasilitas lainnya.

“Meskipun ada keterbatasan dalam mengubah beberapa aspek ini, penilaian dilakukan terhadap elemen-elemen seperti bukaan pintu, struktur bangunan dan pondasi yang sesuai dengan standar keamanan. Langkah-langkah ini merupakan tahap awal menuju sekolah siaga bencana kedepannya,” tutupnya.(cr11/sam)