Kemampuan Bercerita Siswa Kelas 4 SD untuk Perkuat Profil Pelajar Pancasila

Oleh: Nur Susanti, S.Pd. SD
Guru SDN 01 Pamutih, Kec. Ulujami, Kab. Pemalang

PELAKSANAAN pendidikan dapat dilaksanakan melalui kegiatan pembelajaran di lingkungan sekolah. Guru berperan dalam proses belajar mengajar di sekolah. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk proses pembelajaran adalah bercerita. Metode tersebut dapat mengasah pola pikir peserta didik, membuatnya menjadi lebih terbuka terhadap lingkungan sekitar.

Selamat Idulfitri 2024

Siswa dapat menceritakan semua hal yang berkaitan dengan peristiwa yang dilaluinya. Hal itu akan membentuk karakternya. Baik buruknya tergantung pada pendampingan dan pola pendidikan pada peserta didik. Umumnya metode bercerita disampaikan kepada anak-anak untuk menyampaikan pesan moral atau nasihat secara lisan.

Salah satu Profil Pelajar Pancasila yaitu berkebhinnekaan global, pelajar Indonesia dapat melestarikan budaya luhur, lokalitas, dan identitasnya, serta memiliki pikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain. Berawal dari mengenal budaya lokal lebih dalam, agar tidak terbawa arus budaya luar. Kemudian menyaring informasi budaya luar dengan mengambil hal yang positif.

Keberagaman yang ada di Indonesia membuat pelajar Indonesia dituntut untuk belajar saling menghargai dan menghormati, serta mengenal lebih dalam budayanya tanpa menutup diri dari budaya luar. Sehingga muncul sikap berkebinekaan global dari pelajar Indonesia.

Penerapan pendidikan karakter diawali dengan hal yang paling mendasar, atas kesepakatan bersama, seperti menghargai orang yang sedang berbicara. Peserta didik juga diajarkan lebih mandiri, mengingat usia mereka yang sudah bertambah.

Pendidikan karakter diterapkan pada semua mata pelajaran yang diajarkan. Salah satunya pada mata pelajaran bahasa Indonesia, metode bercerita menjadi tempat penerapan pendidikan karakter kepada peserta didik. Melalui metode tersebut, siswa dapat mengambil pesan moral yang terkandung dalam cerita dan menerapkannya pada kehidupan sehari-hari.

Bahan cerita tidak hanya diambil dari buku ajar yang sudah ditentukan oleh pemerintah, tetapi juga menggunakan buku cerita dari perpustakan, atau dari sumber lain. Bercerita menjadi salah satu upaya untuk mengurangi rasa bosan dan meningkatkan antusias peserta didik dalam proses pembelajaran.

Melalui metode bercerita, guru dapat menguasai kelas dengan mudah. Sehingga materi yang disampaikan dapat diikuti peserta didik dengan baik. Namun, dengan hanya mendengar, siswa lebih banyak menerima penjelasan dan menjadi pasif, sehingga mengakibatkan mereka memilih sibuk dengan dunianya sendiri.

Terkadang peserta didik larut dengan jalannya cerita yang dibawakan oleh guru, membuat mereka tidak dapat mengambil pesan moral yang terkandung. Sehingga perlu upaya untuk review diakhir pembelajaran.

Pembentukan karakter berkebinekaan global kepada peserta didik merupakan upaya yang sangat baik untuk dijalankan. Karena banyak sekali budaya luar negeri yang masuk ke Indonesia, mulai dari makanan, pakaian, gaya hidup, dst. Hal tersebut berpengaruh pada peserta didik.

Apabila tidak dibekali karakter berkebinekaan global, maka yang terjadi adalah peserta didik mudah terseret pada budaya luar negeri, sehingga mereka tidak mengenal budaya Indonesia. Guru harus memiliki cara terbaik untuk membentuk karakter berkebinekaan global pada peserta didik, agar menjadi identitas dirinya di masa mendatang.

Cara yang paling efektif adalah dengan bercerita. Salah satunya dengan menyisipkan cerita dalam kegiatan apersepsi pada proses pembelajaran. Cerita yang dibawakan adalah cerita yang mudah dipahami, menggunakan buku-buku yang memiliki gambar menarik.

Menurut wawancara yang dilakukan oleh peneliti, pendidik setidaknya menyisipkan nilai-nilai moral pada setiap pembelajaran dengan penyajian yang menarik. Hal ini dilakukan agar dapat menarik perhatian peserta didik.

Ketika peserta didik tertarik, maka dengan senang hati mereka akan mengamalkan apa yang sudah dipelajarinya. Hasil ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Umam & Firdausa (2022), bahwa ketertarikan dan perhatian siswa dapat memudahkan dan membantu proses pembelajaran. (*)