TPS Efektifkan Pembelajaran Bahasa Indonesia

Oleh : Widiyaningrum Dewi, S.Pd.
Guru SDN 01 Wiyorowetan, Kec. Ulujami, Kab. Pemalang

SALAH satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar di seluruh Indonesia adalah bahasa Indonesia. Materi pembelajaran bahasa Indonesia mencakup empat keterampilan. Yaitu mendengarkan, menulis, membaca, dan berbicara.

Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang terkadang dianggap sepele. Padahal mata pelajaran ini membutuhkan pemahaman dan keterampilan untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran.

Namun, kebanyakan siswa kurang termotivasi dan pasif dalam mengikuti proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Dikarenakan ada pemahaman kalau bahasa Indonesia adalah bahasa sendiri.

Untuk memotivasi siswa aktif dalam pembelajaran bahasa Indonesia dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan optimal, dibutuhkan model pembelajaran yang efektif dan efisien. Guru kelas 3 di SDN 01 Wiyorowetan menerapkan pembelajaran kooperatif model TPS (think pair share) pada materi Mengidentifikasi Ciri-ciri Makhluk Hidup yang tercantum dalam silabus Kurikulum 2013.

Baca juga:  Pentingnya Menanamkan Tanggung Jawab pada Anak di Sekolah

TPS adalah suatu model pembelajaran kooperatif yang memberi siswa waktu untuk berpikir dan merespons serta saling bantu satu sama lain. Model ini memperkenalkan ide “waktu berpikir atau waktu tunggu” yang menjadi faktor kuat dalam meningkatkan kemampuan anak dalam merespon pertanyaan.

Pembelajaran kooperatif model TPS ini relatif lebih sederhana karena tidak menyita waktu yang lama untuk mengatur tempat duduk ataupun mengelompokkan siswa. Pembelajaran ini melatih siswa untuk berani berpendapat dan menghargai pendapat teman (Cholis Sa’dijah, 2006).

TPS memiliki prosedur yang secara eksplisit memberi siswa waktu untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Dengan demikian, diharapkan siswa mampu bekerja sama, saling membutuhkan, dan saling bergantung pada kelompok kecil secara kooperatif. Menurut Aris Shoimin (2014), langkah-langkah pembelajaran kooperatif model TPS adalah sebagai berikut.

1) Think (berpikir). pada tahap ini guru memberikan pertanyaan yang terkait dengan materi pelajaran. Proses TPS dimulai pada saat ini, yaitu guru mengemukakan pertanyaan yang menggalakkan berpikir ke seluruh kelas. Pertanyaan ini hendaknya berupa pertanyaan terbuka yang memungkinkan dijawab dengan berbagai macam jawaban.

Baca juga:  Tutor Sebaya Membantu Proses Pembelajaran yang Menyenangkan

2) Pair (berpasangan). Pada tahap ini siswa berpikir secara individu. Guru meminta kepada siswa untuk berpasangan dan mulai memikirkan pertanyaan atau masalah yang diberikan guru dalam waktu tertentu.

Lamanya waktu ditetapkan berdasarkan pemahaman guru terhadap siswanya, sifat pertanyaannya, dan jadwal pembelajaran. Siswa disarankan untuk menulis jawaban atau pemecahan masalah hasil pemikirannya.

3) Share (berbagi). Pada tahap ini siswa secara individu mewakili kelompok atau berdua maju bersama untuk melaporkan hasil diskusinya ke seluruh kelas. Pada tahap terakhir ini siswa seluruh kelas akan memperoleh keuntungan dalam bentuk mendengarkan berbagai ungkapan mengenai konsep yang sama dinyatakan dengan cara yang berbeda oleh individu yang berbeda.

Baca juga:  Bermain Balon Meningkatkan Hasil Belajar Passing Bawah Bola Voli

Pembelajaran kooperatif model TPS ini memiliki beberapa kelebihan. Di antaranya mudah diterapkan di berbagai jenjang pendidikan dan dalam setiap kesempatan. Kemudian menyediakan waktu berpikir untuk meningkatkan kualitas respon siswa.

Selain itu, siswa menjadi lebih aktif dalam berpikir mengenai konsep dalam mata pelajaran, lebih memahami tentang konsep topik pelajaran selama diskusi. Berikutnya siswa dapat belajar dari siswa lain, dan setiap siswa dalam kelompoknya mempunyai kesempatan untuk berbagi atau menyampaikan idenya.

Dengan pembelajaran kooperatif model TPS, siswa termotivasi untuk berfikir dan berkomunikasi dengan baik. Siswa ingin dan mampu bekerja sama, lebih aktif, dan kreatif dalam pembelajaran, dan suasana pembelajaran lebih kondusif. Di samping itu, siswa berani mengemukakan pendapat karena memahami materi pembelajaran, membantu mengoptimalkan tujuan pembelajaran, serta meningkatkan prestasi belajar. (*)