Budaya  

Wayang Kulit Sarana Pendidikan Karakter Anak Bangsa

AKSI: Dalang cilik Jadug Wisnu Satata saat menunjukkan kebolehannya di Taman Budaya Kudus, beberapa waktu lalu. (MUHAMMAD ABDUL MUTTHOLIB/JOGLO JATENG)

TULUNGAGUNG, Joglo Jateng – Praktisi budaya Sudarko Prawiroyudho menyebut, pementasan wayang kulit dan aneka kesenian lokal lain selama Agustus 2023, positif dan patut dilestarikan guna menjaga kearifan lokal sekaligus menjadi sarana pendidikan karakter anak bangsa di tengah gencarnya pengaruh budaya modern (kekinian). Dengan menjadikan budaya sebagai referensi pembangunan karakter, maka budaya tersebut akan selalu diingat dan dilestarikan dari waktu ke waktu.

Sudarko menggambarkan dialog yang terbangun dalam pementasan wayang kulit kerap menyuratkan pesan penting bagi pengunjung/penonton/pemirsa yang mengikuti jalannya pementasan. Salah satu contoh cerita pewayangan berjudul “Arjuna Wiwaha”. Lakon ini dinilai bisa menjadi referensi dalam menjelaskan pentingnya figur yang mumpuni dan layak dijadikan anutan untuk kemudian dipersiapkan menjadi pemimpin bangsa.

“Setiap pergelaran wayang kulit selalu menyentuh lima wujud kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Lima wujud tersebut adalah ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan keamanan nasional,” katanya, Sabtu (2/9).

Menurut dia, ke depan tantangan Indonesia dalam melestarikan budaya tidaklah mudah. Banyaknya kebudayaan di Indonesia membuka kemungkinan bagi negara lain untuk mengakuinya, terutama negara tetangga.

Oleh sebab itu, generasi muda perlu ikut serta dalam usaha menjaga keamanan budaya dengan mempraktikkan cara berbahasa, menjadi pelaku seni budaya, hingga menjadi penikmat budaya Nusantara. Dengan demikian, budaya tidak mudah diambil atau diakui oleh negara lain.

Globalisasi yang terjadi saat ini harus direspons dengan memperkuat benteng kebudayaan berciri keindonesiaan. Rasa bangga terhadap budaya bangsa mesti disertai semangat nasionalisme yang tinggi untuk mengutamakan kepentingan bangsa dan negara.

“Modernisme merupakan keniscayaan yang tak bisa ditolak di tengah dinamika zaman. Namun, jati diri bangsa Indonesia sebagai manusia berbudaya harus tetap ditanamkan di benak generasi muda. Artinya, ke mana pun anak-anak muda ini pergi dan berkarya, mereka tetap menjaga warisan luhur nilai-nilai budaya Nusantara,” katanya. (ara/abd)