Mahasiswa KKN-T Alma Ata Turunkan Stunting melalui Demonstrasi PMT Brokatin

TURUNKAN: Mahasiswa KKN-T UAA Yogyakarta saat menyelenggarakan sosialisasi penurunan stunting di Gedung Balai Desa Bondowoso, Kecamatan Mertoyudan, Magelang, Rabu (30/8). (HUMAS/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Mahasiswa KKN-T Universitas Alma Ata (UAA) Yogyakarta Kelompok 13 mengadakan sosialisasi stunting dan demonstrasi masak Pemberian Makanan Tambahan (PMT) brownies dengan bahan utama ikan patin (Brokatin). Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Balai Desa Bondowoso, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Rabu (30/8).

Sosialisasi tersebut telah disepakati dan disetujui oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KN-T UAA Kelompok 13 Desa Bondowoso, Silvia Waning Hiyun Puspita Sari dan Kepala Desa Bondowoso, Muh. Thoifur, serta ibu-ibu PKK dan kader posyandu. Dengan tema utama Sinergi optimalisasi potensi daerah untuk ketahanan pangan dan kesehatan keluarga dalam upaya percepatan penurunan stunting.

Kasus tersebut merupakan keadaan kekurangan gizi kronis dalam jangka panjang akibat persediaan makanan tidak mencukupi. Gangguan pertumbuhan bisa terjadi saat janin dalam kandungan dan baru muncul saat anak berusia dua tahun.

Baca juga:  Peringati Jogja Kembali, Seniman Muda Sukseskan Historical Orchestra

Berdasarkan Informasi dari kader posyandu, terdapat 13 balita stunting di Desa Bondowoso. Maka dari itu, mahasiswa KKN-T mengadakan sosialisasi dengan tema Pemberian Sosialisasi Stunting dan Demonstrasi PMT.

Ahli Gizi Puskesmas Mertoyudan 2, yang juga sebagai pemateri, Anis Diniarti Sholikhah memaparkan, gizi buruk, meliputi aspek penyebab, tanda, kriteria anak di bawah 5 tahun yang mengalami stunting dan pengobatannya.

“Sosialisasi ini diharapkan dapat memberikan wawasan terhadap para orang tua balita yang teridentifikasi stunting. Seperti inovasi pangan olahan kaya protein, khususnya ikan patin, untuk mencegahnya,” ujarnya.

Baca juga:  Jadwal Pembuangan Sampah ke Depo & TPS di Yogyakarta Diatur

Sementara itu, tujuan diadakannya kegiatan tersebut agar ilmu yang didapat saat sosialisasi bisa langsung diterapkan kepada ibu-ibu yang memiliki balita. Serta untuk referensi bagi para kader posyandu dalam pembuatan PMT.(sam)