Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Gelar Pawiyatan Askara dan Sesorah di 10 Kampung

SUASANA: Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta saat menggelar Pawiyatan Askara dan Sesorah di salah satu kampung. (ISTIMEWA/JOGLO JOGJA)

KOTA, Joglo Jogja – Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta menggelar Pawiyatan Askara dan Sesorah di 10 kampung. Kegiatan ini dilakukan untuk memperingati dekrit kesepakatan bergabungnya Yogyakarta dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti mengatakan, 5 September adalah hari yang istimewa bagi masyarakat di wilayahnya. Lantaran, diperingati sebagai hari amanat atau dekrit kesepakatan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam VIII yang menyatakan bergabung dengan NKRI.

“Hari yang istimewa bagi kawulo Ngayogyakarta. Momentum ini perlu kita muliakan dengan aktivitas budaya yang bermakna. Dinas Kebudayaan memilih hari ini sebagai hari pertama pelaksanaan pawiyatan (pelatihan, Red.) bahasa sastra berbasis kampung. Sekaligus mempertegas keberadaan kampung menari sebagai pusat aktivitas budaya,” jelasnya, beberapa waktu lalu.

Baca juga:  DP3APPKB Bantul Lakukan Intervensi Serentak Pencegahan Stunting

Yetti menambahkan, Pawiyatan Aksara dan Sesorah dilakukan di 10 kampung di Kota Yogyakarta. Pawiyatan aksara berlangsug di Mangkuyudan, Wirobrajan, Minggiran, Prawirodirjan, dan Purwodiningratan. Sedangkan pawiyatan sesorah digelar di kampung Pengok, Giwangan, Serangan, Karangkajen, dan Bener

Masing-masing akan melaksanakan pawiyatan sebanyak tiga kali pertemuan. Menyasar pada warga masyarakat di kampung Kota Yogyakarta. Adapun materi yang disampaikan pada pawiyatan sesorah antara lain tentang narasi nglamar, wangsulan nglamar, pasrah, panampi. Kemudian pambagyaharja resepsi, pasrah boyongan, panampi boyongan, panatacara sripah, dan lainnya.

Sedangkan materi yang disampaikan pada pawiyatan aksara antara lain, mengenalkan aksara Jawa nglegena, bentuk sandhangan, dan pasangan. Kemudian prinsip dasar tata tulis aksara Jawa abugida, scriptio continua, fungsi pangkon, wanda, dan lain sebagainya.

Baca juga:  Disdikpora DIY Wajibkan Semua Sekolah Terima ABK

Selain itu juga disampaikan materi tentang dinamika paugeran aksara Jawa dan kerangka filosofisnya, serta praktik penulisan aksara Jawa manual dan digital. Dalam kegiatan itu Dinas Kebudayaan juga menggandeng beberapa komunitas sastra. Seperti Geber Jawa, Iqro Hancaraka, Jawacana, Jangkah, Sego Jabung, dan Paguyuban Panatacara Yogyakarta.

“Ini adalah upaya untuk memastikan, melestarikan/nguri-uri supaya warisan budaya kita tetap hidup dan terus dilestarikan untuk generasi mendatang,” jelas Yetti.

Agenda ini adalah bagian dari rangkaian pelaksanaan Festival Sastra 2023 Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta untuk memperkuat peran bahasa sastra dan aksara Jawa. Yakni sebagai identitas lokal yang kuat dan berakar dalam budaya masyarakat Kota Yogyakarta. (riz/mg4)