SDN 1 Kasihan Jadi SD Pertama Sekolah Ramah Anak Berbasis Budaya

TABUH: Salah satu murid SDN 1 Kasihan tengah menabuh gamelan dalam ekstrakurikuler karawitan. (MUHAMMAD ABU YUSUF AL BAKRY/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Yogyakarta menjadi salah satu kota penghasil seniman dan kebudayaan terbesar di Indonesia. Sehingga, tidak heran apabila terdapat beberapa sekolah yang mendapatkan gelar sekolah budaya. Seperti Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Kasihan.

Sekolah yang terletak di Jalan Bibis, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, telah didapuk menjadi sekolah ramah anak berbasis budaya. Sekaligus menjadi sekolah pertama yang mendapatkan piagam sekolah ramah anak dari Kabupaten Bantul.

Kepala SDN 1 Kasihan, Harsiana Wardani menyebutkan, sekolah yang dipimpinnya memiliki dua ruang kelas cagar budaya, dan sudah ditetapkan sebagai sekolah cagar budaya. Selain bangunan kelas itu, juga memiliki sumur bersejarah.

Baca juga:  UAA Raih Peringkat Lima Universitas terbaik se-Yogayakarta

“Sampai saat ini, kami sudah menjadi sekolah berbasis budaya. Bahkan, setiap ruang kelasnya ada tema budaya berbeda. Salah satunya ada mural, pakaian adat, gamelan dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Pihaknya menambahkan, kegiatan sehari-hari sekolah menjunjung budaya Jawa yang tinggi. Misalnya, setiap Kamis diadakan program bernama Kamis budaya, berisikan ekstrakurikuler karawitan dan membunyikan gamelan di pagi harinya.

“Kemudian saat Kamis Pahing anak-anak menggunakan gagrak Ngayogyakarta yang Pakem. Selain itu, juga mewajibkan untuk seharian penuh agar dapat berkomunikasi dengan bahasa Jawa, meskipun sebisanya,” imbuhnya.

BUDAYA: Kegiatan pembelajaran di salah satu ruang kelas cagar budaya yang dimiliki SDN 1 Kasihan.

Sementara itu, Ketua Tim Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ), sekaligus SDN 1 Kasihan, Cicilia Rita Fitriani menyampaikan, sebelum Rabu malam Kamis juga dilakukan penyebaran flyer kawruh Bahasa Jawa. Dengan tujuan untuk meningatkan literasi siswa-siswi.

Baca juga:  MTsN 8 Sleman Terapkan Proses KBM Menyenangkan di Luar Kelas

“Jadi malamnya kami share, untuk kemudian Kamis pagi digunakan untuk literasi. Serta, kami punya tim belajar budaya dan berbudaya (BBB). Salah satunya ada ekstra alih aksara Jawa dan karawitan,” tuturnya.

Tak hanya itu, SDN 1 Kasihan juga menjadi uji coba sasaran pendidikan khas ke-Jogjaan yang bernama PKJ. Dengan mengusung tema Ngajeni atau menghormati orang lain yang ada di sekitarnya dan mengasah karakter anak.

“Ngajeni sendiri juga ada singkatannya. Nga berarti ngapurancang, Je jempol, N untuk matur nuwun, monggo, nyuwun pangapunten, nyuwun sewu nderek langkung, dan I itu injih. Jadi program ini kami lebih tekankan kepada sikap-sikap anak yang mencerminkan orang Jogja baik seperti apa,” ujarnya.

Baca juga:  Saka Pariwisata Berperan Penting dalam Pengembangan Wisata

Dalam proses belajarnya, SDN 1 Kasihan juga memiliki duta PKJ yang ditunjuk sebagai pionir dan memberikan contoh benar bagi teman-teman sebayanya. Untuk mendukung kemajuan sekolah berbasis kebudayaan.

“Meskipun sekolah kami berbasis budaya Jawa, tetapi kami tetap mendorong siswa untuk belajar Bahasa Inggris dan Tuntas Baca Tulis Quran (TBTQ). Melalui ekstrakulikuler juga untuk menunjang pembelajaran siswa,” pungkasnya.(cr11/sam)