Peningkatan Kemampuan Keterampilan Menulis Cerpen dengan Penerapan Teknik Latihan Terbimbing

Oleh: Mujinah, S.Pd
Guru SMPN 3 Petarukan, Kab. Pemalang

AKTIVITAS melahirkan bahasa yang dilakukan manusia dalam mengungkapkan ide, konsep, pengertian, pikiran, dan perasaan selaras dengan tujuan pembelajaran bahasa yang ada di sekolah. Yakni agar siswa terampil berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan terampil menulis (Tarigan 1986:2).

Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Namun yang terjadi, sebagian besar siswa bahkan guru menganggap keterampilan menulis lebih sulit daripada keterampilan bahasa yang lain.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, ada beberapa masalah pokok dalam pembelajaran menulis di sekolah menengah pertama (SMP). 1) Pelaksanaan menulis di kelas masih berorientasi pada produk menulis. 2) Keterampilan menulis disikapi sebagai kegiatan isolatif yang tidak terintegrasi dengan keterampilan bahasa lainnya. 3) Kegiatan pembelajaran menulis yang dilaksanakan di kelas belum menggambarkan proses menulis. Meliputi pramenulis, out line, perencanaan/kerangka tulisan, dan perbaikan tulisan (penyuntingan).

Menulis adalah suatu kegiatan yang digunakan sebagai alat komunikasi tidak langsung untuk menuangkan pikiran-pikiran, ide, dan perasaan dalam bahasa tertulis. Sedangkan cerpen adalah cerita fiksi atau cerita rekaan. Cerpen dapat disusun berdasarkan fakta yang dialami atau dirasakan oleh penulisnya. Unsur intrinsik cerpen antara lain tema, alur atau plot, latar atau setting, tokoh dan penokohan, sudut pandang, gaya, dan amanat.

Penerapan teknik pembelajaran yang tepat dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan proses belajar mengajar. Teknik terbimbing dengan menggunakan dasar tokoh idola dapat membantu siswa dalam menggali ide dan gagasan dalam menulis cerpen.  Pembelajaran menulis cerpen melalui teknik latihan terbimbing adalah kegiatan belajar mengajar yang menerapkan proses bimbingan dan latihan dalam menulis cerpen.

Tokoh idola merupakan seseorang yang sangat dikagumi oleh penggemarnya. Pembelajaran menulis cerpen dengan teknik latihan terbimbing berdasarkan tokoh idola disajikan dalam bentuk Power Point.

Dengan menggunakan latihan terbimbing berdasarkan tokoh idola, guru membimbing secara maksimal proses pembelajaran. Ini mempermudah dalam melengkapi aspek formal cerpen, kelengkapan unsure intrinsik cerpen, keterpaduan unsur struktur cerpen, dan penyesuaian terhadap penggunaan bahasa cerpen. Yaitu merangkai kalimat menjadi kerangkanya serta menulis cerita pendek dengan utuh.

Anak lebih ditekankan pada pemberian motivasi tentang manfaatnya materi ini pada kehidupan. Guru lebih fokus pada siswa yang masih belum aktif agar lebih aktif. Pendekatan secara individual dilakukan untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi siswa. Guru membimbing siswa dalam merumuskan kelengkapan unsure intrinsik dalam cerita berdasarkan tokoh idola.

Dengan berdiskusi, mereka memecahkan masalah. Yaitu membuat kerangka cerpen, jelas membuat siswa lebih tertantang untuk membuatnya dengan benar. Persaingan dengan kelompok lain berjalan dengan positif.

Siswa memaparkan rangkaian gambar disertai dengan alasan sehingga kelompok lain menanggapinya dengan menggunakan alasan yang benar. Kekompakan sangat terlihat pada saat presentasi. Kelompok yang masih melakukan kesalahan dalam memahami naskah biografi akan mengetahui kesalahannya dan  merubahnya.

Kesimpulannya bahwa penggunaan teknik latihan terbimbing berdasarkan tokoh idola sangat membantu siswa dalam menulis cerpen. Sehingga siswa akan lebih mudah dalam merangkai kata dan siswa memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efesien sesuai dengan etika yang berlaku. Baik secara lisan maupun tulisan.

Dengan demikian, teknik latihan terbimbing berdasarkan tokoh idola ini dapat digunakan untuk pembelajaran bahasa Indonesia. Khususnya dalam menulis cerpen dan banyak memberikan manfaat bagi anak yaitu : 1) Memberi motivasi anak untuk aktif dalam pembelajaran menulis cerpen. 2) Menghilangkan kebosanan anak dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen. 3) Mencapai hasil pembelajaran yang maksimal sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal pada pembelajaran menulis cerpen. (*)