Pati  

Usai Kekeringan, Tanah Longsor dan Banjir Sudah Mengintai

DROPPING: Relawan BPBD Saat mengisi bak penampungan air di salah satu wilayah yang terdampak kekeringan di Kabupaten Pati, belum lama ini. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Sejumlah wilayah di Kabupaten Pati masih dilanda kekeringan menjelang berakhirnya musim kemarau tahun ini. Berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati, ada sebanyak 56 desa di 10 Kecamatan yang terdampak kekeringan.

Meliputi 3 desa di Kecamatan Jaken, 13 desa di Kecamatan Jakenan, 11 desa di Kecamatan Pucakwangi, 9 desa di Kecamatan Winong, 4 desa di Kecamatan Gabus dan 6 desa di Kecamatan Kayen. Kemudian ada 2 desa di Kecamatan Sukolilo, 5 desa di Kecamatan Tambakromo, 1 desa di Kecamatan Tayu, dan 2 desa di Kecamatan Batangan.

Baca juga:  Terdakwa Pemalsuan Merek Cardinal Dituntut Hukuman Penjara 2 Tahun 6 Bulan

Meskipun kekeringan masih melanda, BPBD Pati menyebut sejumlah bencana berpotensi terjadi di daerahnya pasca musim kemarau ini. Mengingat November ini diperkirakan sudah mulai memasuki musim penghujan.

“Antara Desember hingga Januari nanti pasti ada ancaman bencana tanah longsor dan banjir. Karena curah hujannya akan kembali tinggi,” ucap Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Pati Martinus Budi Prasetya, belum lama ini.

Ia menjelaskan, bencana tanah longsor berpontensi terjadi di kawasan yang mengalami kekeringan. Pasalnya, kata dia, banyak rekahan atau retakan tanah yang bisa memincu terjadinya bencana tersebut.

Baca juga:  PDIP Terbanyak, Hanura-Perindo Pati tak Kebagian Banpol

“Tanah-tanah yang kering, ketika musim kemarau timbul rekah-rekahan tanah. Nanti begitu dimasukin air, itu tanah rekah berpotensi menjadi longsor,” jelas dia.

Pihaknya pun mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai bencana tanah longsor saat musim penghujan nantinya. Ia juga berpesan kepada masyarakat agar menutup retakan tanah untuk menghindari terjadinya bencana tersebut.

“Jadi ini harus diwaspadai masyarakat. Imbauan saya perlu ada gerakan masyarakat kalau ada tanah-tanah kritis, yang saat ini kondisinya terbuka lebih baik ditutup dengan material tanah juga. Sehingga nantinya tidak langsung kemasukan air yang menyebabkan kemungkinan longsor,” pungkasnya. (lut/fat)