Disdik Sleman: Penerapan KBM 5 Hari Berjalan Lancar

SERIUS: Siswa-siswi SD Negeri Sleman 4 saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelasnya, Kamis (21/9). (ADIT BAMBANG SETYAWAN/JOGLO JOGJA)

SLEMAN, Joglo Jogja – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Dinas Pendidikan (Disdik) telah menerapkan kebijakan lima hari Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SD, dan SMP, yang dimulai sejak semester pertama tahun ajaran 2023/2024. Aturan itu, dinilai berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan.

Kepala Disdik Sleman Ery Widaryana mengatakan, sampai saat ini, pelaksanaan lima hari KBM di Sleman berjalan lancar. Pihaknya terus melakukan monitoring dan evaluasi, mulai dari evaluasi mingguan dan bulanan.

“Adanya evaluasi itu, diharapkan jika ditemukan hal yang kurang atau tidak pas bisa segera ditindaklanjuti. Alhamdulilah sampai sekarang tidak ada hambatan. Bahkan orang tua dan pihak sekolah mendukung dan anak merasa senang,” terangnya di Sleman, Kamis (21/9).

Ery menambahkan, adanya kebijakan lima hari sekolah membuat jam belajar menjadi panjang. Dengan begitu, para guru memiliki banyak kesempatan untuk mendampingi siswa dalam penguatan karakter. Sementara pada hari Sabtu dan Minggu, siswa bersama dengan orang tua.

Baca juga:  Terdampak Banjir Lahar Dingin Gunung Marapi Sumbar, Ratusan Warga Masih Mengungsi

“Kita juga menguatkan parenting. Harapannya orang tua bisa ikut serta mendampingi saat anak tidak sekolah,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menekankan, kondisi belajar di sekolah lebih panjang, maka guru diminta tidak memberikan pekerjaan rumah (PR) secara berlebihan. Hal itu, dikhawatirkan akan membebani para siswa. “Jangan memberikan tugas PR karena sudah banyak di sekolah, sehingga bisa langsung didampingi,” tuturnya.

Menanggapi hal itu, Kepala SD Negeri Sleman 4 Asih Ambarwati mengungkapkan, pihaknya sepakat dengan kebijakan yang sudah dibuat Disdik Sleman. Pasalnya, baik enam hari maupun lima hari sekolah, kurang lebih memiliki kegiatan yang sama, sehingga pembelajaran masih tetap efektif.

“Untuk lima hari sekolah sampai saat ini anak-anak juga bisa efektif dan bisa mengikuti. Karena, lima hari sekolah ini kan juga memang sudah dirancang dan dari Dinas. Selain itu, juga selalu ada monitoring. Sekolah juga sudah ada program bagaimana mengatasi untuk pembagian waktu,” paparnya.

Baca juga:  Berkaca dari Tragedi SMK Lingga Kencana Depok, Masyarakat Diminta Tolak Bus Tanpa Izin Layak Jalan!

Asih juga merasa sepakat dengan aturan tidak memberikan PR yang memberatkan siswa. Hal itu lantaran di sekolah siswa sudah mengikuti pembelajaran yang cukup panjang. Harapannya ketika di rumah dapat menikmati waktu senggangnya bersama keluarga.

“Mungkin kalau saya lebih menekankan ketika PR dirumah itu, bukan PR berupa mata pelajaran untuk mengerjakan soal. Tapi lebih ke life skill untuk bantu orang tua. Seperti membuatkan teh, cuci piring, lipat baju. Itu malah akan lebih melatih keterampilan dasar anak agar kedepan life skill anak bisa berkembang,” tuturnya.

Baca juga:  Di WWF Bali 2024, Pemprov Jateng Teken Kerja Sama Dengan UNESCO-IHE Institute for Water Education

Ia menambahkan, sudah memberikan imbauan kepada guru di sekolahnya untuk melaksanakan hal itu. Karena, menurutnya anak-anak di sekolah sudah belajar sampai sore dan kemungkinan ketika diberi PR aspek pengetahuan atau kognitif siswa akan lelah.

“Jadi, kami berfikir bagaimana caranya memberikan tugas yang tidak membebani, dengan ketrampilan yang akan berguna untuk masa depan anak,” ucapnya.

Sementara itu, salah satu orang tua siswa di Ngaglik Sleman, Rohayati mengaku sepakat dengan aturan lima hari sekolah. Dengan adanya kebijakan itu, waktu luang bersama anak bisa dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan bersama anak, terlebih jika tidak ada PR.

“Kadang Sabtu pagi bisa jalan sama anak, waktu lebih banyak kalau mau sekedar jalan-jalan atau olahraga. Anak juga bisa ikut pelatihan olahraga seperti bulu tangkis dan lainnya,” tungkasnya. (bam/all)