TK PG Rendeng Terapkan Pembelajaran Inkuiri untuk Dukung Proses Berfikir Siswa

BELAJAR: Siswa dan siswi TK PG rendengan tengah mengikuti pembelajaran inkuiri. (GALANG WITAHTA/JOGLO JATENG)

UNTUK meningkatkan daya kritis siswa, beberapa cara bisa guru digunakan dalam pembelajaran. Salah satunya dengan menerapkan konsep pembelajaran inkuiri.

Pembelajaran inkuiri telah dilaksanakan oleh Taman Kanak-kanak (TK) PG Rendeng, Kabupaten Kudus. Model ini sudah digunakan sejak tiga tahun terakhir.

Kepala TK PG Rendeng, Erny Susanti menjelaskan, pembelajaran inkuiri merupakan proses belajar yang menekankan kepada proses berfikir anak. Menurutnya, pembelajaran ini cukup penting dalam menyongsong kehidupan di abad ke-21.

“Anak diajarkan untuk menjadi penemu, ilmuwan. Jadi anak-anak akan dikenalkan dengan problem solving, komunikatif, hingga berfikir kritis,” tuturnya, belum lama ini.

Baca juga:  KPU Kudus Tetapkan Anggota Dewan Terpilih

Menurutnya, program inkuiri ini dapat memberikan cukup banyak manfaat bagi peserta didik. Seperti, anak dapat menemukan solusi dalam setiap masalah yang dihadapi.

“Anak dituntut untuk mencari solusi untuk pecahkan masalah. Jadi tidak hanya bergantung terhadap orang tua. Anak-anak harus inovatif dan kreatif dalam memecahkan masalah,” katanya.

Pihaknya menjalankan budaya inkuiri dengan dipadukan dengan media permainan. Menurutnya, dengan pembelajaran kolaboratif itu dapat membuat siswa menjadi tajam dalam hal ingatan, ketimbang hanya menghafal.

“Tahapan inkuiri ini ada lima. Mulai dari amati, bertanya, mencari tahu, diskusi, hingga evaluasi. Inkuiri ini banyak keunggulan. Guru pun dapat manfaatnya juga,” ujarnya.

Baca juga:  Putri Pemilik PO Berlian Jaya Siap Bertarung di Pilkada Kudus

Dia mengungkapkan, untuk dapat menjadi guru yang menjalankan budaya inkuiri, perlu pelatihan yang cukup panjang. Setidaknya butuh waktu sembilan bulan untuk menjalani masa pelatihan.

Pembelajaran inkuiri ini cukup mendapatkan respon positif dari para wali siswa. Mereka menjalankan budaya inkuiri dengan beberapa media pembelajaran. Seperti, organ tubuh, hingga hewan.

“Misalnya media kami pakai semut. Nanti akan bisa mengamati apa-apa saja yang ada di semut itu sendiri. Jadi itu sesuai dengan beberapa tahapan yang kamu jalankan,” pungkasnya. (cr3/mg4)