Asyik dan Menyenangkan Belajar Penerapan Sila-sila Pancasila dengan Bermain Peran

Oleh: Novi Astriana, S.Pd.SD., M.Pd.
Guru SD N 01 Rembul, Kec. Randudongkal, Kab. Pemalang

KURIKULUM Merdeka menekankan proses pembelajaran agar berieontasi kepada siswa, menuntun siswa untuk aktif dan kreatif. Kemudian membuat siswa senang dan nyaman dalam proses pembelajaran.

Oleh karena itu, guru perlu mendesain kegiatan pembelajaran agar siswa merasa senang, nyaman, aktif dan kreatif di dalam kelas. Hal ini bertujuan agar materi pelajaran dapat diterima siswa dengan baik.

Desain pembelajaran dibuat oleh guru untuk semua mata pelajaran. Termasuk mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Pendidikan Pancasila merupakan salah satu mata pelajaran yang kurang diminati oleh siswa. Hal ini dikarenakan materi mata pelajaran tersebut berupa hafalan-hafalan dan ruang lingkup yang dipelajari. Meliputi manusia sebagai diri pribadi, anggota keluarga, dan masyarkat.

Selain itu, selama ini materi Pendidikan Pancasila disampaikan dengan secara verbal melalui kegiatan ceramah dan textbook oriented dengan keterlibatan siswa yang sangat minim. Sehingga siswa hanya menerima informasi dan tidak terlibat langsung dalam proses pembelajaran.

Guru perlu mencari solusi agar proses pembelajaran Pendidikan Pancasila ini dapat membuat siswa menjadi aktif, kreatif, senang, dan nyaman yang dikenal dengan istilah student centered. Student centered merupakan pembelajaran yang berpusat kepada siswa di mana guru bukan lagi sebagai pemberi informasi tapi sebagai fasilitator dan organisator.

Salah satu materi yang ada pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila kelas 5 adalah Penerapan Sila-sila Pancasila. Materi ini berisi tentang bagaimana penerapan sila-sila Pancasila diterapkan dalam lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat.

Materi ini, di kelas 5 SD Negeri 01 Rembul disampaikan kepada siswa dengan metode bermian peran. Bermain peran (role playing) adalah cara menyajikan suatu bahan pelajaran atau materi pelajaran dengan mempertunjukkan, mempertontonkan, atau memperlihatkan suatu keadaan atau peristiwa-peristiwa yang dialami orang, cara atau tingkah laku dalam hubungan sosial.

Jadi dengan kata lain bermain peran (role playing) adalah metode mengajar yang dalam pelaksanaannya peserta didik mendapat tugas dari guru untuk mendramatisasikan suatu situasi sosial yang mengandung suatu problem atau masalah. Tujuannya agar peserta didik dapat memecahkan suatu masalah yang muncul dari suatu situasi sosial tersebut (Mansyur, 1996:104).

Proses pembelajaran diawali dengan membagi siswa menjadi lima kelompok. Setiap kelompok nantinya diberi tugas untuk melakukan simulasi tentang pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dengan tema Kerja Sama Antarpemeluk Agama, Peduli Sosial, Gotong Royong, Musyawarah Mufakat, dan Tolong Menolong.

Setelah itu, masing-masing kelompok membuat skenario yang berisi adegan dan percakapan apa saja yang harus dilakukan oleh masing-masing anggota. Siswa diberi kesempatan untuk berlatih dan mempersiapkan properti yang dibutuhkan. Langkah selanjutnya adalah siswa melakukan aktivitas berpain peran sesuai dengan tema yang diberikan di depan kelas.

Pengunaan metode bermain peran berdampak pada siswa. Awalnya siswa tidak berani mengemukakan pendapat, gagasan, dan menentukan sikap. Akan tetapi setelah diadakan melalui siklus-siklus, siswa telah mampu mengekspresikan sikap dan perasaannya dalam pemeranan yang dimainkan. Siswa telah dapat melakukan diskusi tentang masalah perilaku, sikap yang dia anggap baik dan benar tanpa merasa canggung dan malu atau takut. (*)