Opini  

TikTok Shop Resmi Dilarang: Dampak Dugaan Monopoli dan Tantangan Manajemen Operasional di Pasar Bisnis Lokal

Oleh: Ilara Dina Yahya
Magister Ilmu Manajemen
Universitas Jenderal Soedierman

TERDAPAT kekhatiwaran serius yang timbul akibat resminya TikTok Shop ditutup. Utamanya dari sisi manajemen operasional pada bisnis lokal. Bagi bisnis lokal TikTok adalah tempat yang penting untuk mempromosikan produk dan layanan.

TikTok Shop sendiri merupakan bagian dari aplikasi TikTok, yang memungkinkan penggunanya untuk menjual serta membeli barang. Platform tersebut menyediakan banyak barang dari skincare sampai fashion ataupun alat rumah tangga dan barang lainya yang tentunya dengan harga lebih murah dari pasaran. TikTok Shop juga menjadikan artis papan atas di tanah air untuk menjadi brand ambassador/BA. Tidak heran jika akhir-akhir ini pelanggannya meningkat.

Hal itu ternyata menjadi ancaman bagi UMKM lokal. Khususnya para penjual di pasar Tanah Abang yang sedang hangat diperbincangkan mengalami banyak penurunan pembeli, akibat adanya Tiktok Shop.

Para penjual menuntut pemerintah agar Tiktok Shop dapat dihapus. Hal ini menimbulkan pro-kontra bagi UMKM diseluruh Indonesia. Karena dengan TikTok Shop, bisnis lokal dapat menjangkau pasar yang lebih luas dari yang mereka bayangkan. Alokasi pembiayaan nya pun lebih rendah dari toko offline.

Dugaan monopoli pasar

Baca juga:  Peran Media dalam Penyuluhan Pertanian

Salah satu isu utama yang muncul dalam kasus pembatasan TikTok Shop adalah dugaan monopoli. Seperti yang kita tau bahwa produk yang dijual di Tiktok Shop relatif lebih murah dari harga pasaran, membuat para pedagang di pasar (offline) kesulitan untuk bersaing. Muncul dugaan bahwa Tiktok shop memonopoli pasar melalui predatory pricing. Namun apakah benar Tiktok Shop memonopoli pasar?

Menurut pedoman usaha yang diterbitkan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha), predatory pricing adalah praktik melakukan jual rugi atau menetapkan harga yang sangat rendah dengan maksud untuk menyingkirkan atau mematikan usaha pesaingnya di pasar. Ini berarti melanggar tujuan pasal 20 UU No. 5/1999, yaitu mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat sehingga menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah, dan pelaku usaha kecil, maka UU No. 5/1999 mengatur beberapa perilaku dan kegiatan yang dilarang dan yang dapat mengakibatkan persaingan tidak sehat.

Baca juga:  Jaga Kesehatan Ibu dan Bayi dengan Pemeriksaan USG Kehamilan

Penetuan harga di Tiktok Shop sendiri dilakukan bebas oleh pedagang. Sehingga perlu adanya penyelidikan lanjutan untuk menetukan bahwa Tiktok melakukan predatory pricing. Dalam situasi seperti ini, pemerintah merasa perlu untuk melindungi persaingan yang adil dan mencegah dominasi satu entitas dalam industri tertentu.

Tantangan Manajemen Operasional

Beritanya resminya pembatasan Tiktok Shop menghadirkan tantangan manajemen bagi pelaku bisnis lokal yang menjalankan bisnisnya di Tiktok Shop. Pemilik bisnis harus mempertimbangkan untuk beralih ke platform Instagram, Facebook, atau platform e-commerce independen yang tentunya memerlukan investasi dalam hal infrastruktur teknologi, pemasaran, dan manajemen persediaan.

Baca juga:  Menuju Langit Sehat Semarang: Transportasi Ramah Lingkungan demi Terwujudnya SDG’s No. 11

Peralihan platform e-commerce juga mengharuskan pemilik bisnis untuk membangun pendekatan kembali terhadap para customer. Mungkin para penjual perlu merancang strategi baru untuk berinteraksi dengan pelanggan mereka, menarik perhatian mereka tanpa kehadiran yang kuat di TikTok, dan mencapai pelanggan mereka di platform.

Akibat lain dari pembatasan TikTok Shop yaitu menyebabkan fluktuasi dalam permintaan dan saluran distribusi. Disini manajemen persediaan menjadi kunci, dan bisnis perlu memastikan bahwa mereka dapat mengelola persediaan mereka dengan efisien untuk menghindari kekurangan atau kelebihan persediaan yang tidak diinginkan.

Sampai disini kita dapat mengetahui bahwa pembatasan TikTok Shop telah membawa sejumlah tantangan dalam manajemen operasional bagi para pelaku bisnis didalamnya. Keberhasilan akan bergantung pada kemampuan bisnis untuk menyesuaikan model mereka dan merespons perubahan pasar dengan cepat dan efektif. (*)