Berfikir Logis Bernalar Kritis Berargumen Matematis Siswa Sekolah dengan PBL

Oleh: Widiastuti, S.Pd.SD.
Guru SD 1 Sidorekso, Kec. Kaliwungu, Kab. Kudus

SALAH satu kecerdasan yang distimulasi melalui pendidikan ialah kecerdasan logis matematis atau kecerdasan logika matematika. Kecerdasan merupakan kata sifat yang menunjukkan kemampuan diri dalam aspek kognitif.

Dalam hal ini, logika matematika menjadi bentuk kemampuan berpikir dalam penalaran atau berhitung. Maka, dapat dikatakan bahwa kecerdasan logis matematis berperan dalam pemecahan masalah di lingkungan terdekat melalui penerapan ilmu matematis.

Sejalan dengan pendapat Mahmud & Pratiwi (2019), bahwa tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar yakni untuk menumbuhkan sikap berfikir logis dan kritis secara terampil dalam memberikan solusi atas permasalahan sehari-hari. Berdasarkan observasi pembelajaran kelas di SD 1 Sidorekso Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus, ditemukan siswa mengalami kesulitan dalam memahami pembelajaran matematika.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Hal ini dikarenakan guru masih menggunakan model pembelajaran berpusat pada guru. Akibat dari penerapan model pembelajaran tersebut ialah siswa tidak diberikan kesempatan secara luas untuk mengeksplor diri dalam proses pembelajaran. Sehingga siswa minim mendapatkan pengalaman belajar.

Pembelajaran berbasis teacher centered dapat membatasi ruang gerak belajar siswa. Padahal, matematika tetap harus dilaksanakan meski memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Hal ini dikarenakan beberapa penyelesaian dari persoalan sehari-hari berkenaan dengan proses matematis.

Penyelesaian persoalan sehari-hari antara lain pemahaman informasi, menghitung dan mengukur, serta memahami hubungan yang terjadi antara kondisi nyata dengan teori yang bersifat. Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan, maka diperlukan model pembelajaran berbasis pemecahan masalah untuk mendorong pembentukan kecerdasan logis matematis.

Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang dalam penerapannya menggunakan stimulus berupa permasalahan untuk dapat mendorong siswa belajar dan bekerja kelompok secara kooperatif dalam mendapatkan solusi dari permasalahan yang disajikan. Maka penerapan model pembelajaran Problem Based Learning menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran yang memegang kendali penuh dalam proses pembelajaran.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Proses pembelajaran dilakukan secara sistematis melalui pemahaman masalah, menghubugkan dengan ilmu matematis, serta melakukan penyelesaian berdasrakan keilmuan matematika. Sehingga penerapan model Problem Based Learning dengan menerapkan masalah konkret merupakan keharusan untuk dilakukan.

Penerapan model Problem Based Learning dalam pembelajaran melibatkan siswa secara aktif dengan menyajikan permasalahan dan mengajukan pertanyaan pemantik untuk membantu memperluas pengetahuan siswa. Langkah dalam pembelajaran berbasis masalah dilakukan melalui analisis masalah, pencarian informasi. Kemudian menetapkan hipotesis sementara, melakukan penemuan, dan menyampaikan hasil olah pikir dan melakukan evaluasi.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Sejalan dengan secara umum, langkah-langkah model pembelajaran Problem Based Learning antara lain fokus pada persoalan, menertibkan kegiatan pembelajaran. Selanjutnya melakukan pengarahan saat kegiatan penemuan, mengolah hasil karya, dan menyelidiki dan menilai proses pemecahan masalah.

Berdasarkan paparan di atas, maka penelitian ini berfokus untuk menjelaskan penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam menanamkan kecerdasan logis matematis pada siswa. Penerapan model pembelajaran PBL menumbuhkan kecerdasan logis matematis yang ditunjukkan oleh keterampilan siswa dalam menyusun diagram batang.

Selain itu, model pembelajaran PBL menumbuhkan kecerdasan logis matematis yang ditunjukkan oleh keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal matematika.  Indikator dalam penilaian tingkat kecerdasan logis matematis siswa dilihat melalui kemampuan berfikir kritis yang diperoleh dari stimulus dalam pembelajaran. (*)