Mewujudkan Pembelajaran Paikem dengan Supervisi

Oleh: Warsono, S.Pd
Kepala SMP N 3 Kemangkon, Kab. Purbalingga

ADANYA kebijakan peningkatan jaminan kualitas lulusan pendidikan membawa konsekuensi di bidang pendidikan. Antara lain perubahan dari model pembelajaran yang tradisional atau metode pembelajaran yang lebih berpusat guru ke pengembangan  model atau metode yang lebih berpusat pada siswa.

Peran guru dalam konteks pembelajaran menuntut perubahan. Antara lain (a) peranan guru sebagai penyebar informasi semakin kecil, tetapi lebih banyak berfungsi sebagai pembimbing, penasehat, dan pendorong. (b) Peserta didik adalah individu-individu yang kompleks, yang berarti bahwa mereka mempunyai perbedaan cara belajar sesuatu yang berbeda pula. (c) Proses belajar mengajar lebih ditekankan pada belajar daripada mengajar.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan pergeseran peran guru dalam pembelajaran. (1) Cara pandang guru terhadap siswa perlu diubah. Siswa bukan lagi sebagai obyek pengajaran, tetapi pelaku aktif dalam proses pembelajaran. (2) Guru diharapkan mampu mengajarkan bagaimana siswa bisa berhubungan dengan masalah yang dihadapi dan mengatasi persoalan yang muncul di masyarakat.

Kenyataan menunjukkan bahwa setelah diadakan supervisi, sebagian besar guru  belum paham dalam melaksanakan pembelajaran Paikem (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan). Masih banyak guru yang menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi pelajaran, aktivitas siswa masih kurang, dan papan pajangan belum ada.

Salah satu solusi untuk mengatasi kondisi tersebut di atas adalah dengan peningkatan kompetensi guru dalam melaksanakan tugas pokok fungsinya. Yakni dengan melaksanakan supervisi akademik. Dengan sasaran guru yang mengalami masalah dalam pembelajaran, agar dapat mengimplementasikan model pembelajaran Paikem.

Pembelajaran Paikem

Pengertian belajar aktif yang kita ketahui pada masa lalu yaitu cara belajar siswa aktif  sebagai suatu pendekatan dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar yang mandiri. Melalui pendekatan belajar aktif tersebut, siswa diharapkan akan lebih mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya.

Belajar aktif merupakan perkembangan dari teori John Dewey learning by doing John Dewey dalam Sugihartono dkk, (2007:108). Dalam belajar aktif guru dituntut bekerja secara profesional, mengajar secara sistematis, dan berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif dan efisien.

Pembelajaran inovatif merupakan pembelajaran yang memberikan kesempatam pada peserta didik untuk membangun pengetahuan sendiri. Menurut Prawiradilaga dalam SW Risada (2018:57), ada beberapa aspek yang mempengaruhi inovasi. Yaitu kebaruan, temuan ulang, kekhasan, manfaat relatif, sesuai, rumit, dapat dicoba, dan diamati. Pembelajaran inovatif didesain oleh guru atau istruktur merupakan metode yang baru agar mampu memfasilitasi peserta didik mendapat kemajuan dalam setiap proses dan hasil belajar.

Pembelajaran kreatif adalah pembelajaran yang tidak seperti biasanya. Dalam  Paikem,  siswa  banyak  bekerja  dan  berbuat.  Maka terdapat banyak kesempatan bagi siswa untuk menghasilkan produk belajar. Produk itu bisa berupa karya seni, jalan keluar terhadap suatu permasalahan, grafik, diagram, tabel, puisi, karangan, model tiga dimensi, dan lain-lain.

Setiap tenaga pendidik dan kependidikan hendaknya memotivasi diri dan menjauhkan diri dari ketertutupan dalam berfikir. Namun harus mendorong keterbukaan terhadap perbedaan pendapat.

Pembelajaran kreatif menurut A. Chaedar Alwasilah dalam Ngainun Naim (2009:27) adalah kemampuan mewujudkan bentuk baru, struktur kognitif baru, dan produk baru yang mungkin bersifat fisikal seperti teknologi atau bersifat simbolik dan abstrak. Contohnya definisi, rumus, karya sastra, atau lukisan. Berkreasi adalah munculnya suatu kejutan-kejutan efektif dan misterius, karena datangnya ilham atau solusi yang begitu cepat, tepat waktu, dan tidak dipaksaan.

Pembelajaran efektif adalah pembelajaran dimana siswa memperoleh keterampilan-keterampilan yang spesifik, pengetahuan, sikap, serta merupakan pembelajaran yang disenangi siswa. Pembelajaran yang efektif biasanya ditandai dan diukur oleh tingkat ketercapaian tujuan oleh sebagian besar siswa dalam suatu kegiatan belajar.

Dengan demikian, pembelajaran efektif itu merupakan bagian yang tidak terlepaskan dari pembelajaran yang berkualitas. Karena kualitas hasil belajar itu tergantung pada efektifitas pembelajaran yang terjadi didalam proses pembalajaran itu sendiri.

Hakikat pembelajaran yang efektif adalah proses belajar mengajar yang bukan saja terfokus pada hasil yang dicapai peserta didik. Namun bagaimana proses pembelajaran yang efektif itu mampu memberikan pemahaman yang baik, kecerdasan, ketekunan, kesempatan, serta dapat memberikan perubahan perilaku dalam kehidupannya. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran efektif merupakan sebuah proses perubahan seseorang dalam tingkah laku dari hasil pembelajaran yang ia dapatkan dari pengalaman dirinya dan dari lingkungannya yang membawa pengaruh dan manfaat tertentu.

Pembelajaran menyenangkan adalah kegiatan pembelajaran di mana siswa merasa senang, selalu ingin belajar, selalu menanti-nantikan, dan sebagainya. Menyenangkan  adalah  suasana  belajar-mengajar  yang  jauh  dari  rasa  bosan  dan  takut. Dengan begitu, siswa dapat memusatkan perhatiannya secara penuh pada pembelajaran sehingga waktu curah perhatiannya pada pembelajaran tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya  waktu  curah  perhatian  terbukti  meningkatkan  hasil  belajar.

Keadaan  aktif dan  menyenangkan  tidaklah  cukup  jika  proses  pembelajaran  tidak  efektif. Proses pembelajaran  yang  efektif  menghasilkan  apa  yang  harus  dikuasai  siswa  setelah proses pembelajaran berlangsung. Sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang  harus  dicapai.  Jika  pembelajaran  hanya  aktif  dan  menyenangkan  tetapi  tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain  biasa.

Pembelajaran menyenangkan menurut Iif Khoiru Ahmadi (2011:31) adalah pembelajaran yang berkaitan dengan sifat terpesona dengan keindahan, kenyamanan, dan kemanfaatannya. Sehingga mereka terlibat dengan asyik dalam belajar sampai lupa waktu, penuh percaya diri, dan tertantang untuk melakukan hal serupa atau hal yang lebih berat lagi. Pembelajaran menyenangkan adalah suatu proses pembelajaran yang berlangsung dalam suasana yang menyenangkan dan mengesankan.

Supervisi Akademik

Supervisi akademik merupakan suatu proses pengawasan yang dilakukan oleh kepala sekolah kepada tenaga pendidik. Tujuannya untuk menguatkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Sehingga tenaga pendidik dapat berkontribusi untuk meningkatkan kualitas proses   belajar peserta didik.

Supervisi akademik menitik beratkan pengamatan pada aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung terlaksananya pembelajaran. Supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap guru dalam penelitian ini termasuk supervisi akademik. Melalui kegiatan supervisi akademik, kepala sekolah dapat membuat atau merencanakan program pengembangan profesionalisme guru, sebagai upaya meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

Menurut Glickman (2007:79), supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan mambantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan agar tercapai sesuai dengan harapan. Sedangkan menurut Suhardan (2010:47), supervisi akademik adalah upaya meningkatkan proses pembelajaran untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran sesuai dengan keinginan yang akan dicapai.

Tujuan supervisi akademik pada hakikatnya adalah suatu kegiatan membantu guru dalam mengembangkan kemampuannya mengajarnya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Perilaku supervisi akademik secara langsung berhubungan dan berpengaruh terhadap perilaku guru.

Melalui supervisi akademik, supervisor dapat mempengaruhi perilaku guru dalam mengajar, yang selanjutnya perilaku mengajar guru yang baik akan mempengaruhi perilaku belajar siswa. Jadi dapat disimpulkan tujuan akhir supervisi akademik adalah terbinanya perilaku belajar siswa yang baik.

Supervisi akademik bermanfaat bagi kepala sekolah untuk memberikan informasi, wawasan, dan melakukan identifikasi terhadap berbagai kekurangan serta potensi yang ada pada diri guru itu sendiri. Keberhasilan suatu program dapat dicapai secara maksimal bila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan berkesinambungan, pengawasan, pendampingan, serta evaluasi.

Penerapan Hasil Supervisi

Salah satu solusi untuk mengatasi kondisi tersebut di atas adalah dengan peningkatan kompetensi guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Dalam hal ini, keterampilan mengimplementasikan model pembelajaran Paikem dilaksnakan melalui supervisi akademik.

Kegiatan perencanaan meliputi membimbing guru untuk membuat persiapan mengajar yang akan digunakan, menyusun lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar mengajar. Kemudian menyusun daftar pertanyaan yang akan digunakan dalam diskusi antara kepala sekolah dan guru.

Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap tindakan berikutnya adalah melaksanakan skenario tindakan yang telah direncanakan antara peneliti dan mitra peneliti. Kegiatan peneliti (kepala sekolah)  pada siklus I ini adalah mengamati jalannya proses pembelajaran. Sementara itu kegiatan guru sebagai mitra peneliti adalah melaksanakan kegiatan pelaksanaan pengajaran sesuai dengan rencana yang telah disusun.

Pada tahap pengamatan, dilaksanakan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan sebagai berikut. (1) Mengobservasi tampilan guru. Yaitu mengamati pengembangan materi pengajaran yang dilakukan guru, strategi belajar mengajar yang dikembangkan guru. Kemudian mengamati metode pembelajaran yang dipilih dan ditampilkan guru dalam pembelajaran di kelas. Lalu media pengajaran yang dipilih dan ditampilkan guru dalam pembelajaran di kelas dan sumber belajar yang dipilih dan dipergunakan guru dalam kegiatan pembelajaran.

(2) Mengobservasi aktivitas siswa. Yaitu mengamati keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan guru, keaktifan siswa dalam mengajukan pertanyaan. Lalu keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, dan keaktifan siswa dalam diskusi kelompok.

Hasil yang diperoleh dalam tahap observasi dikumpulkan serta dianalisis dalam tahap refleksi ini. Di samping data hasil observasi, dipergunakan pula jurnal yang dibuat saat guru selesai melaksanakan kegiatan pengajaran sebagai acuan bagi peneliti untuk dapat mengevaluasi tindakannya. Hasil analisa dipergunakan sebagai acuan untuk merencanakan perbaikan pada siklus berikutnya.

Untuk mengetahui adanya perbaikan dalam proses pembelajaran, diperlukan indikator untuk mengukur peningkatan kompetensi dan efektivitas guru dalam proses pembelajaran secara idividual. Yaitu (1) guru sebelum melakukan pembelajaran telah membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). (2) Pelaksanaan pembelajaran berlangsung secara efektif dengan melibatkan siswa dalam pembelajaran menggunakan metode yang bervariasi. Pembelajaran juga menggunakan media konkret, media semi konkret, dan abstrak. (3) Guru dalam pembelajaran melakukan evaluasi sesuai dengan tujuan yang diprogramkan, dan (4) pembelajaran ditutup dengan kesimpulan kemudian tindak lanjut.

Sebelum dilakukan tindakan pembelajaran model Paikem, kemampuan guru dalam melakukan pembelajaran mutunya masih rendah. Kegiatan supervisi akademik dilaksanakan untuk membantu guru dalam mengembangkan kemampuan mengajarnya agar tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan yang diharapakan.

Supervisi dalam pembelajaran bertujuan meningkatkan pengembangan, interaksi, dan penyelesaian masalah yang dihadapi guru dalam pembelajaran. Kegiatan supervisi merupakan usaha membantu guru agar dapat memperbaiki, mengembangkan, meningkatkan pengajarannya, serta dapat menyediakan pula kondisi belajar siswa yang efektif dan efisien. (*)