Academic Burnout pada Pelajar

Oleh: Pramita Agnes Wahareni, S.Psi
Guru BK SMA N 2 Demak

FENOMENA  academic burnout menurut para ahli disebabkan karena rutinitas yang melelahkan psikis. Rutinitas ini membuat seseorang mengalami kelelahan, kejenuhan, kemalasan, dan kemandekan belajar.

Pelajar dengan ciri-ciri kurang motivasi, merasa bosan, mudah capek, mudah marah-marah, atau bahkan mogok sekolah dengan alasan yang sulit dipahami oleh orang tua bisa jadi mengalami academic burnout. Pelajar yang sudah di fase tersebut tetapi orang tua atau guru tidak menyadari hal tersebut dan dibiarkan tanpa ada solusi, maka akan berakibat lebih buruk bagi pelajar tersebut.

Academic burnout berbeda dengan stres pada umumnya. Bukan pula kelelahan yang terjadi akibat belajar semalaman, dan bukan pula gangguan mental. Academic burnout merupakan puncak dari segala rasa capek yang terlalu lama mengendap di tubuh dan pikiran.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi ini terjadi. Di antaranya aktivitas yang terlalu padat, persaingan dan tingkat kepercayaan diri yang menurun, tugas yang terlalu banyak tapi tidak bisa membagi waktu pengerjaannya, serta tanggung jawab semua tugas yang mepet deadline bisa jadi sumber academic burnout.

Untuk siswa yang sedang mengalami atau ingin mencegah academic burnout, deretan tips di bawah ini mungkin bisa membantu. Pertama, memberi batasan. Bahasa kerennya boundaries. Pisahkan waktu buat belajar, main, dan mengerjakan tugas rumah.

Misalnya, jam 07.00 sampai 15.30 untuk sekolah. Kemudian jam 16.00 sampai 17.00 sore membantu ibu membereskan rumah. Lalu malamnya dipakai untuk istirahat dan nonton series.

Atau, jika siswa sangat sibuk di weekday, jadwal santai bisa dipindahkan ke Sabtu dan Minggu. Dengan catatan tidak boleh menyentuh buku sekalipun. Sebab, otak juga butuh refreshing untuk mengembalikan energi yang habis terpakai.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Kedua, komunikasi dengan guru dan orang tua. Walaupun mungkin sulit, tapi tidak ada salahnya untuk dicoba. Siswa bisa berdiskusi dengan teman yang mengalami hal serupa, lalu menyampaikannya lewat kalimat yang sopan ke Bapak dan Ibu Guru.

Jika sedang sibuk dengan persiapan ujian mandiri, siswa bisa memberi tahu orang tua jika ia sedang butuh ruang untuk berkonsentrasi. Tidak bermaksud untuk tidak mau membantu pekerjaan rumah, tapi prioritasnya berbeda.

Ketiga, journaling alias menuangkan seluruh pikiran dan perasaan ke dalam bentuk tulisan. Seringkali kita tidak punya kesempatan untuk curhat karena takut membebani orang lain. Melalui journaling, siswa bisa bercerita tentang hal-hal yang mengganggu pikiran. Sehingga membantu melepaskan stres dan menurunkan tekanan darah tinggi.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Keempattake a break. Jika siswa kelelahan dan ingin berhenti sebentar, itu tidak masalah. Cari waktu untuk jalan-jalan, belanja, kulineran, atau kegiatan lain yang bisa menambah semangat dan bahagia. Semoga artikel ini bermanfaat untuk siswa yang sedang berjuang meraih cita-cita. Belajar boleh, pusing jangan. (*)