Pentingnya Ice Breaking terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran

Oleh: Miskina Ziliyah, S.Pd.
Guru SMA N 1 Sayung, Kab. Demak

KI Hadjar Dewantara menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak. Tujuannya agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun sebagai anggota masyarakat.

Guru atau tenaga pendidik harus bekerja secara profesional dalam mendorong gairah belajar siswa serta mampu menyusun strategi untuk memfasilitasi kegiatan belajar secara detail dan efektif. (Indrawati, 2019). Penting bagi guru untuk memilih strategi dan metode yang tepat untuk siswa yang kurang termotivasi untuk ikut dalam pembelajaran.

Ice breaking terbutkti efektif dalam mengatasi kejenuhan peserta didik dalam proses belajar (Faijin, 2021). Menurut Sunarto (2012:21), ice breaking merupakan permainan atau kegiatan yang berfungsi untuk mengubah suasana kebekuan dalam kelompok. Sedangkan menurut Syam Mahfud (2010), ice breaking adalah suatu aktivitas kecil dalam suatu acara yang bertujuan agar peserta mengenal peserta lain dan merasa nyaman dengan lingkungan barunya.

Tujuan dilaksanakannya ice breaking menurut Sunarto (2012:43) adalah 1) terciptanya kondisi-kondisi yang setara antara sesama peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. 2) Menghilangkan sekat-sekat pembatas di antara peserta didik. Sehingga tidak ada lagi anggapan si anu pintar, si anu bodoh, si anu kaya, si anu bos, dan lain sebagainya. 3) Terciptanya kondisi yang dinamis dan kondusif di antara peserta didik. 4) Menimbulkan motivasi antara sesama peserta didik untuk melakukan pembelajaran.

Menurut Sunarto (2012:80), dalam model pembelajaran pasti ada namanya kekurangan dan kelebihannya masing-masing, termasuk ice breaking ini. Kelebihan ice breaking di antaranya membuat waktu terasa cepat, membawa dampak menyenangkan dalam pembelajaran. Kemudian dapat digunakan secara spon, serta membuat suasana menjadi menyatu dan kompak. Sedangkan kelemahannya adalah penerapan disesuaikan dengan kondisi tempat masing-masing.

Berikut contoh ice breaking yang dapat dipraktikkan di kelas untuk mencairkan suasana saat kegiatan pembelajaran. 1) Permainan Hitam dan Hijau. Peserta yang mengikuti kegiatan ini diharuskan untuk berdiri. Kemudian Guru ataupun trainer menjelaskan peraturan. Jika kata “hijau” diucapkan, maka peserta harus jongkok dan jika kata “hitam” diucapkan maka peserta harus berdiri. Semua peserta harus mengikuti arahan yang diucapkan oleh guru atau trainer.

2) Permainan Sentuhan Pipi. Diawali dengan Guru atau trainer menjelaskan peraturan dan membagi kelompok berdasarkan jenis kelamin. Dari kedua kelompok yang terbentuk, dua peserta ditugaskan untuk menebak nama benda yang ditempelkan pada pipinya. Satu peserta bertugas untuk menebak dengan ketentuan mata di tutup oleh kain. Sedangkan satu peserta lainnya bertugas untuk menempelkan benda yang akan ditebak ke pipi peserta yang bertugas menebak. Jika peserta kalah (tidak berhasil menebak), maka perwakilan tersebut boleh di ganti hingga semua peserta dalam kelompok kebagian untuk bermain.

3) Permainan Estafet Bisikan. Guru atau trainer terlebih dahulu menjelaskan peraturan dengan meminta peserta untuk berbaris membuat lingkaran. Permainan dimulai dari guru atau trainer yang memberikan satu kalimat kepada peserta disebelahnya.

Contoh kalimat yang dapat digunakan yaitu “saya melihat ular di atas pagar, yang sedang melingkar memakan tikus liar”. Peserta yang mendapat kalimat pertama harus mengestafetkan kalimat tersebut kepada peserta sebelahnya dengan cara membisikannya. Terus lakukan kegiatan tersebut hingga sampai di peserta paling akhir

Ice breaking yang digunakan dalam dunia pendidikan harus ada fungsi edukasinya. Guru profesional yang kreatif akan selalu membuat suasana cair dan bergairah dengan menciptakan model-model ice breaking sendiri (Sulastri, 2014). Siswa akan muncul semangat baru yang lebih saat melakukan permainan (Sunarto, 2017). (*)