Pantai Widuri, Primadona Wisata Pemalang

RAMAI: Wahana perahu takiran di Pantai Widuri yang ramai diminati pengunjung kala akhir pekan. (YUSRIL ASYHAR/JOGLO JATENG)

PEMALANG, Joglo Jateng – Pantai Widuri merupakan ‘primadona’ wisata di Kabupaten Pemalang. Aksesnya yang dekat dengan perkotaan serta tiket masuknya yang terjangkau, membuat pantai ini menjadi tujuan utama warga Pemalang dan sekitarnya dalam mengisi waktu liburan atau sekadar bercengkerama dengan kerabat.

Selain menawarkan panorama laut yang indah, pantai Widuri juga memiliki beberapa wahana dan fasilitas penunjang. Salah satunya yaitu Perahu wisata atau yang biasa disebut dengan Perahu Takiran.

Perahu Takiran pantai Widuri menjadi favorit pengunjung semenjak kehadirannya di tahun 2019. Meski kala itu belum genap setahun beroperasi, wahana perahu tersebut harus berhenti lantaran ikut terdampak pandemi Covid-19 yang memaksa banyak sektor wisata harus tutup sementara.

Baca juga:  ASN Pemalang Diingatkan Taat Pajak, Kendaraan Dinas Disidak Satpol PP

Setelah aktif kembali di 2021, antusiasme pengunjung terhadap perahu wisata ini semakin meningkat. Faktor rindunya masyarakat untuk berlibur menjadi salah satu alasan. Ditambah, banyak warga dari berbagai pelosok Pemalang yang ingin memiliki pengalaman sensasi menikmati perairan Widuri dengan perahu.

Pengunjung hanya perlu membayar Rp 15 ribu per orang untuk menikmati 10 menit perjalanan. Ongkos ini terbilang murah, mengingat pengalaman baru yang didapat oleh pengunjung jauh lebih berharga. Selain itu, dengan menaiki perahu, orang tua juga dapat mengenalkan pada anak tentang transportasi air ini.

Terkait keselamatan penumpang, Eri salah seorang pengemudi perahu menyatakan, pihaknya telah mematuhi standar operasional prosedur (SOP) yang ditekankan oleh Satpolairud. Adapun hal itu meliputi jaket pelampung, kondisi perahu, jumlah maksimal penumpang, dan yang tak kalah penting yaitu soal tinggi rendahnya ombak di laut.

Baca juga:  Mansur Pastikan Daging Kurban Aman

“Kami berlayar harus sesuai jalur. Selain itu mematuhi arahan polairud bilamana terjadi angin dan ombak kencang, maka dilarang beroperasi, “ jelasnya.

Eri menyebut, omzet yang diperoleh dari menjadi pengemudi perahu Takiran terbilang menggiurkan dibanding kala ia menjadi nelayan. Meski tidak dipungkiri bahwa penghasilannya kini juga tidak selalu besar, karena bergantung pada banyaknya wisata yang berkunjung, juga kondisi cuaca yang ada.

“Penghasilan kalau hari libur biasanya sekitar Rp 600 sampai Rp 700 ribu. Itu pun kadang jauh di bawahnya bila cuaca kurang baik. Apalagi bila hari biasa, sepertinya kurang dari segitu,” ungkapnya.

Baca juga:  Karang Jahe Beach Lakukan Pembenahan Saluran Air

Perahu Takiran Pantai Widuri mulanya diinisiasi oleh segelintir nelayan yang mencoba peruntungannya melalui perahu wisata. Namun semenjak pandemi, makin banyak nelayan yang turut memanfaatkan perahunya untuk disulap menjadi perahu wisata. Mereka menganggap bahwa peluang ini merupakan alternatif kala mencari ikan sedang di masa sulit.

Seiring berjalannya waktu, kini jumlah perahu Takiran menjadi semakin banyak, hingga membentuk sebuah paguyuban yang telah mendapat izin dari dinas terkait. Total ada 25 perahu yang wisata yang siap berlayar, yang diharapkan terus menjaga komitmennya agar pengunjung dapat terhibur tanpa terancam sisi keselamatannya. (cr9/abd)