Supklin Guna Meningkatkan Mutu Penyusunan Kisi-kisi Soal

Oleh: Kanthi Tri Setyawati, S.Pd.
Kepala SMP N 3 Karangmoncol, Kab. Purbalingga

HASIL pengecekan administrasi pendidikan menunjukkan bahwa kisi-kisi soal sering keadaannya tidak sesuai harapan. Hal ini dibuktikan dengan skor kompetensi menyusun kisi-kisi soal.

Kemampuan memahami kisi-kisi merupakan bagian dari kegiatan penilaian. Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat, untuk memperoleh berbagai informasi ketercapaian kompetensi peserta didik.

Menurut Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian, penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Ditegaskan oleh Susiatin (2019) bahwa hasil penilaian yang akurat hanya akan dihasilkan dari instrumen yang akurat pula. Berdasarkan hal tersebut, maka alat atau instrumen penilaian harus dapat disusun dengan baik. Sehingga dapat menjamin akurasi hasil penilaian.

Penyusunan kisi-kisi soal merupakan salah satu tahapan yang harus dilakukan oleh guru dalam rangkaian kegiatan penilaian. Sofyan (2016) mengemukakan bahwa penulisan kisi-kisi soal adalah kerangka dasar yang dipergunakan untuk penyusunan soal dalam evaluasi proses pendidikan dan pembelajaran. Dengan kisi-kisi soal ini, maka seorang guru dengan mudah dapat menyusun soal-soal evaluasi.

Kisi-kisi soal inilah yang memberikan batasan guru dalam menyusun soal evaluasi. Dengan kisi-kisi penulisan soal, maka tidak akan terjadi penyimpangan tujuan dan sasaran dari penulisan soal untuk evaluasi penulisan soal. Guru hanya mengikuti arah dan isi yang diharapkan dalam kisi-kisi penulisan soal yang dimaksudkan.

Penyusunan kisi-kisi soal merupakan salah satu permasalahan yang dijumpai pada guru. Banyak guru yang mengalami kesulitan dalam menyusun kisi-kisi soal dan tidak sedikit pula guru yang tidak membuat kisi-kisi ketika membuat soal.

Uraian di atas memberikan gambaran bahwa penyusunan kisi-kisi soal merupakan bagian integral dalam kegiatan penilaian. Kisi-kisi sebagai matrik informasi yang dapat dijadikan pedoman untuk menulis dan merakit soal menjadi tes. Tujuan penyusunannya adalah untuk menentukan ruang lingkup dan tekanan penilaian yang setepat-tepatnya. Sehingga dapat menjadi petunjuk dalam menulis soal.

Dengan menggunakan kisi-kisi, penulis soal akan dapat menghasilkan soal-soal yang sesuai dengan tujuan tes. Sehingga perakit tes akan mudah menyusun perangkat tes. Kisi-kisi akan mampu menuntun guru dalam menyusun soal tes sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Kisi-kisi juga akan membawa guru pada batas kemampuan apa soal dibuat. Dengan kisi-kisi yang terstandar, soal yang dibuat guru akan memiliki kualitas yang sama dimanapun soal tes dibuat.

Jika semua soal yang dibuat oleh guru sesuai dengan kisi-kisi, maka kualitas soal akan semakin baik. Untuk mewujudkan kondisi tersebut tentu tidak mudah. Karena tuntutannya adalah guru harus mampu menyusun kisi-kisi dengan baik.

Satiti (2014) mengemukakan bahwa supervisi merupakan bantuan kepada guru agar dapat membantu peserta didik belajar untuk menjadi lebih baik. Supervisi diberikan kepada guru untuk mendukung keberhasilan belajar peserta didik.

Supervisi klinis (supklin) termasuk bagian dari supervisi pembelajaran. Dikatakan supervisi klinis karena prosedur pelaksanaannya lebih menekankan pada mencari kelemahan atau sebab yang terjadi dalam proses pembelajaran. Kemudian langsung diusahakan cara memperbaiki dengan cara memberi terapi pada kelemahan yang ada.

Tujuan supervisi klinis adalah membantu guru mengembangkan dan meningkatkan profesionalitasnya melalui perencanaan bersama (guru dan supervisor), observasi, dan umpan balik. Karakteristiknya sebagai berikut: (1) supervisi diberikan berupa bantuan, sehingga inisiatif tetap berada di tangan tenaga kependidikan. (2) Supervisi klinis sedikitnya memiliki tiga tahap, yaitu pertemuan awal, pengamatan dan umpan balik. (3) Adanya penguatan dan umpan balik dari supervisor terhadap perubahan perilaku guru yang positif sebagai hasil pembinaan. Hasil pengamatan menunjukan bahwa dengan supervisi yang baik menghasilkan pencapaian tujuan pendidikan yang baik pula. (*)