Dosen UPGRIS Laksanakan Pengabdian Internasional

SUASANA: Pemberian materi ESD bagi guru sekolah di Hatyaiwittayakarn School di Kota Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand secara luring, belum lama ini. (HUMAS/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Enam dosen Universitas PGRI Semarang (Upgris) melakukan pengabdian masyrakat tingkat internasional yang di laksanakan di Hatyaiwittayakarn School. Tepatnya di Kota Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand. Dalam prosesnya, mereka membawa meteri perihal Education for Sustainable Development (ESD) bagi guru sekolah di sana sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah dicanangkan oleh United Nations.

Adapun Tim Dosen Upgris yang melakukan pengabdian ialah Eny Hartadiyati, Ervina Eka Subekti, Rizky Esti Utami. Kemudian Anita Chandra Dewi, Arisul Ulumuddin, dan Fajar Ari Widiyatmoko.

Iduladha

Menurut Eny, ESD harus dipahami guru. Sebab ini merupakan ujung tombak di pendidikan. Yakni dengan mengimplementasikan dalam pembelajaran untuk menanamkan pola pikir keberlanjutan (sustainability) kepada peserta didik.

Baca juga:  Organisasi Profesi Jurnalis Gelar Aksi Tolak RUU Penyiaran

“Dengan pembelajaran yang menarik, sesuai dengan kebutuhan siswa sebagai generasi yang mahir dalam teknologi,” katanya.

Menurutnya, proses pembelajaran seperti itu sesuai dengan target pendidikan berkualitas (goals keempat dari SDGs). Yaitu peserta didik mempunyai pengetahuan dan keterampilan tentang gaya hidup berkelanjutan dan Information and Communication of Technology (ICT).

“Kami merumuskan permasalahan di antaranya guru-guru di sekolah tersebut sudah melakukan kegiatan pendidikan dengan baik, sudah melakukan proses pembelajaran dengan menarik dan inovatif. Namun, belum membekali siswa dengan pemahaman sustainability. Dengan kata lain sustainability belum disematkan di dalam pembelajaran,” paparn Eny.

Baca juga:  PSI Kota Semarang Belum Jajaki Koalisi dengan Parpol Lain

Pelaksanaan pengabdian ini dilakukan secara luring. Yaitu dengan memberikan kesempatan brainstorming yang dilakukan dengan metode ceramah informatif, tanya jawab, sharing, dan diskusi tentang pentingnya nurturant effect. Yaitu pola pikir sustainability dalam pembelajaran selain instructional effect.

“Pra-pelaksanaan dilakukan dengan metode demonstrasi, sharing, dan diskusi berupa pemberian materi tentang SD dan ESD, desain instruksional pembelajaran bermuatan sustainability,” tandasnya. (luk/mg4)

DPRD Batang