Dorong Revolusi Pendidikan di Era AI

Politisi Partai Gerindra, Heri Pudyatmoko
Politisi Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko.

Artificial Intellegence atau cerdasan buatan, atau yang sering disingkat AI, merujuk pada proses atau cara kerjanya adalah sebuah pengembangan kemajuan komputer dan sistem yang memiliki kemampuan untuk melakukan tugas-tugas yang sebelumnya memerlukan kecerdasan manusia.

Dalam hal ini, AI dapat digunakan untuk mengotomatisasi proses bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, serta memberikan wawasan yang lebih mendalam untuk pengambilan keputusan yang lebih baik.

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko atau yang akrab disapa Heri Londo menyoroti betul perkembangan pengetahuan dan teknologi. Dalam hal ini adalah eranya AI kaitannya dengan dunia pendidikan yang ada.

Menurutnya, revolusi pendidikan di era AI seperti sekarang menjadi hal sangat penting. Karena selain sebagai tantangan, hal ini juga menjadi peluang bagi Indonesia menjadi semakin maju sekarang dan ke depan.

“Dengan bantuan teknologi AI dan sistem analitik canggih, itu dapat meningkatkan efisiensi logis dan yang bersifat operasional, serta merencanakan strategi konsepsi pendidikan dan masa depan peserta didik,” ungkapnya di Semarang, Minggu (29/10).

Baca juga:  Outing Class Manasik Haji Tambah Pemahaman Keagamaan

Heri Londo menambahkan, dengan penguatan keputusan, peningkatan produktivitas, pemahaman yang mendalam tentang kehidupan yang serba cepat, hingga penciptaan produk inovatif, data menjadi kunci untuk membangun SDM yang tangguh dan adaptif.

“Pendidikan sebagai fondasi kemajuan SDM unggul dan kompetitif, mau tidak mau harus masuk, adaptif, dan mengambil peluang ini,” jelasnya.

AI Bagian Penting Pendidikan Maju

Pemanfaatan AI di institusi pendidikan adalah hal yang dapat meningkatkan efisiensi, meningkatkan pengalaman peserta didik dan staf pendidikan, serta meningkatkan kualitas penelitian.

AI juga dapat menjadi alat yang berguna dalam mengolah data, memberikan layanan yang personal dan responsif, serta membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih baik. AI juga memberikan rekomendasi dan sumber daya belajar bagi sivitas akademika.

AI berperan memberikan rekomendasi mengenai kursus dan program studi berdasarkan minat dan potensi SDM. Selain itu, AI juga menyediakan akses ke sumber daya belajar dan referensi untuk mendukung penelitian dan tugas peserta didik.

Baca juga:  Peduli Lingkungan, SMP 3 Satu Atap Gebog Tanam 200 Rumput Vetiver

“Peserta didik dapat menggunakan fitur pencarian AI untuk menemukan kursus dan program studi yang sesuai dengan minat dan tujuan karier mereka. AI juga dapat memberikan rekomendasi berdasarkan data tentang keterampilan yang diminati oleh industri dan tingkat persaingan di pasar kerja untuk siswa SMA, SMK, dan perguruan tinggi,” ungkap politisi Partai Gerindra Jateng itu.

AI juga membantu dalam pengelolaan keuangan, sumber daya manusia, dan akademik di sekolah atau universitas. AI berperan dalam mengelola data dan informasi terkait keuangan, sumber daya manusia, dan akademik.

“Kecerdasan buatan dapat membantu dalam perencanaan anggaran, pengelolaan inventaris, dan analisis kinerja keuangan. AI membantu dalam prediksi dan perencanaan anggaran universitas, serta memberikan rekomendasi mengenai alokasi dan penggunaan sumber daya yang efisien,” imbuhnya.

Lebih lanjut, AI dapat mendorong pengelolaan energi dan lingkungan di institusi pendidikan. AI berperan dalam mengelola sumber daya energi dan lingkungan. Seperti mengoptimalkan penggunaan energi, mengurangi konsumsi yang tidak efisien, dan mendukung inisiatif ramah lingkungan, dan lain sebagainya.

Baca juga:  45 Mahasiswa Upgris Lulus tanpa Skripsi

Terus Merawat Etika dan Keamanan Data

Ada dua tantangan terkait revolusi pendidikan di era AI menurut Heri. Tantangan etika dan keamanan data dalam penggunaan AI, menurutnya harus juga menjadi perhatian bersama.

“Ada dua risiko dalam hal ini yaitu terkait etika dan keamanan datanya. Namun hemat saya, dengan menerapkan prinsip keberlanjutan dan kemampuan dinamis, institusi pendidikan dapat mengatasi risiko tersebut dan memanfaatkan peluang pengembangan secara optimal,” jelasnya.

“Etika ketimuran kita tetap menjadi hal yang utama sebagai prinsip berpikir dan bersikap,” imbuhnya.

Menurutnya, dengan pendekatan yang bijaksana dalam menggunakan data sebagai panduan, tantangan yang terkait dengan etika dan keamanan data tetap harus diatasi dengan seksama.

Heri memungkasi pentingnya untuk memahami bahwa mengadopsi AI dalam pendidikan adalah proses yang membutuhkan waktu dan komitmen yang kuat dari semua pihak terkait.

“Bersama-sama, kita dapat membangun pendidikan yang relevan, inklusif, dan memungkinkan anak-anak Indonesia berkembang dan berhasil di era AI,” pungkasnya. (*/gih)