Pengabmas Poltekkes Dampingi Kader Pria dalam Posbindu PTM

CEK KESEHATAN: Pengabmas Jurusan Kebidanan Semarang Poltekkes Kemenkes Semarang yang dilaksanakan di Balai RT 04 RW 07 Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Rabu (25/10/2023). (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Pengabdian Masyarakat (Pengabmas) Jurusan Kebidanan Semarang Poltekkes Kemenkes Semarang menggelar Pelatihan dan Pendampingan Kader Pria dalam Posbindu Penyakit Tidak Menular (PTM). Kegiatan ini dilaksanakan untuk mendukung program pembangunan kesehatan masyarakat di Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik, pada Rabu (25/10/2023).

Ketua pengabdi, Elisa Ulfiana, S.SiT, M.Kes mengungkapkan, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan kader kesehatan dalam upaya melakukan skrining faktor resiko PTM. Khususnya di lingkungan masyarakat Gedawang.

“Sebagaimana diketahui, penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyakit yang tidak disebabkan oleh infeksi mikroorganisme seperti protozoa, bakteri, jamur, maupun virus. Tetapi lebih disebabkan karena pola hidup,” kata dia kepada Joglo Jateng.

Baca juga:  Disdikbud Jateng Beri Jalur Zonasi Khusus 4 Kecamatan di Semarang

Oleh karena itu, pihaknya melakukan promosi perilaku hidup bersih dan sehat melalui perilaku ‘Cerdik’. Yaitu cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet sehat seimbang, istirahat yang cukup, dan kelola stres. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan faktor risiko PTM.

“Cek kesehatan secara berkala yaitu dengan melakukan pemeriksaan faktor risiko PTM. Dapat dilakukan melalui pos pembinaan terpadu (posbindu) PTM yang ada di desa/kelurahan, dan di puskesmas. Upaya pengendalian PTM tidak akan berhasil jika hanya dilakukan oleh bidang kesehatan tanpa dukungan seluruh jajaran lintas sektor. Baik pemerintah, swasta, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan. Bahkan seluruh lapisan masyarakat,” paparnya.

Baca juga:  Pemkot Semarang Raih 2 Penghargaan Bergengsi dari Arsip Nasional RI

Elisa berharap, dilaksanakannya kegiatan pengabdian masyarakat tersebut bisa memberikan dampak positif. Salah satunya menjadikan kader kader pria sebagai penggerak masyarakat dalam pencegahan penyakit tidak menular.

Lebih lanjut, berdasar data kasus baru PTM, jumlah kasus baru PTM yang dilaporkan secara keseluruhan pada 2021 adalah 4.262.517 kasus. Hipertensi masih menempati proporsi terbesar dari seluruh PTM yang dilaporkan, yaitu sebesar 76,5 persen. Sedangkan urutan kedua terbanyak adalah diabetes melitus dengan persentase 10,7 persen.

“Dua penyakit tersebut menjadi prioritas utama pengendalian PTM di Jawa Tengah. Jika Hipertensi dan diabetes melitus tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan PTM lanjutan. Seperti jantung, stroke, gagal ginjal, dan sebagainya,” ungkap salah satu anggota Pengabmas, Erna Widyastuti, SSiT. M.Kes.

Baca juga:  Mantan Ajudan Ganjar Pranowo Daftar Cawabup Tegal lewat PDIP

Penyakit jenis ini, kata dia, mempunyai kontribusi sebesar 70 persen kematian di dunia. Lemahnya pengendalian faktor risiko mempunyai dampak terhadap peningkatan jumlah kasus dalam setiap tahun. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, 2013, dan 2018 menunjukkan kecenderungan peningkatan prevalensi PTM. Seperti diabetes, hipertensi, stroke, dan penyakit sendi/rematik/encok.

Erna menyebut, Jurusan Kebidanan Semarang merupakan salah satu jurusan di Poltekkes Kemenkes Semarang dengan salah satu wilayah binaan yaitu Kelurahan Gedawang. Pada kegiatan masyarakat yang dilaksanakan oleh tim dosen, berbagai upaya dilakukan untuk pencegahan penyakit menular. Khususnya intervensi terhadap kader pria. (luk/mg4)