Polda Jateng Gagalkan Pemberangkatan PMI Ilegal di YIA

JUMPA PERS: Para pelaku penyaluran Pekerja Migran Indonesia ilegal saat dihadirkan di Mapolda DIY, Selasa(7/11). (ADIT BAMBANG SETYAWAN/JOGLO JOGJA)

YOGYAKARTA, Joglo Jogja– Petugas dari Polda DIY bersama Kantor Imigrasi dan BP3MI Bandara YIA berhasil menggagalkan pemberangkatan dua pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal ke Qatar di Yogyakarta Internasional Airport atau Bandara YIA, Sabtu (21/10) lalu. Selain itu, petugas juga menangkap dua tersangka penyalur PMI ilegal yang akan mempekerjakan di luar negeri.

Wadir Reskrimum Polda DIY AKBP Tri Panuko mengatakan, dua pelaku yang ditangkap itu adalah NA, 32 warga Jatinegara, Jakarta Timur dan JN, 59, warga Purwakarta Jawa Barat. Adapun dua korban PMI yang gagal diberangkatkan adalah NS, 41, warga Purwakarta, Jawa Barat dan RN, 37, warga Bekasi, Jawa Barat.

Awalnya, Sabtu (21/10), tim opsnal Jatanras Ditreskrimum Polda DIY menerima informasi dari Kantor Imigrasi dan BP3MI Bandara YIA tentang penundaan keberangkatan 3 orang dewasa yakni NS, RN, NA dan satu anak dari NA, calon penumpang pesawat Air Asia tujuan Yogyakarta-Singapura. Ketiganya tertunda keberangkatan karena tercatat sebagai PMI tanpa dilengkapi dokumenn yang sah.

Baca juga:  40 Anggota DPRD Kota Yogyakarta Ditetapkan

Ketiganya kemudian dibawa oleh petugas Polda DIY. Dari hasil pemeriksaan, NS dan RN adalah korban dari TPPO atau PMI ilegal. Sedangkan NA, ditetapkan sebagai tersangka. Anak NA yang masih berusia enam tahun telah dikembalikan ke keluarga.

Dari pemeriksaan NS kenal dengan JN. Di mana JN sering memberangkatkan PMI ke luar negeri. JN sendiri kenal dengan N yang dulu punya PT yang sering memberangkatkan PMI ke luar negeri. Tapi PT itu sudah tutup sejak 2007.

Setelah tahu NS hendak bekerja sebagai PMI, N memberikan uang senilai Rp10 juta kepada NS melalui JN untuk mencari paspor dan membeli perlengkapan NS. JN kemudian memberikan uang Rp 6 juta untuk keperluan keluarga yang ditinggalkan, Rp4 juta untuk mengurus paspor.

Baca juga:  Jemparingan Warnai Semarak Bulan Merdeka Belajar di Yogyakarta

N pun memperkenalkan JN kepada NA, dan ada komunikasi antara NA dengan JN untuk proses pemberangkatan ke Qatar. NA minta uang ke JN sebnayak Rp23 juta. JN pun mentransfer uang tersebut ke NA yang kemudian dibelikan tiket pesawat ke Singapura dan Qatar.

NS dan RN ditampung di rumah Na selama satu malam, dan pada Kamis (17/10), mereka berempat berangkat dari Jakarta ke bandara YIA dengan naik bus. Keempatnya sempat menginap semalam di dekat bandara YIA. Kemudian saat cek in dilakukan pengecekan oleh petugas Imigrasi DIY, ternyata NS dan RN adalah calon PMI. Sedangkan NA adalah orang yang menampung dan memberangkatkan keduanya sebagai pembantu rumah tangga di Qatar.

Baca juga:  Dorong Kreativitas, School Expo PAUD Digelar

“Dalam perkembangannya kami melakukan pengembangan penyidikan dan menangkap JN pada 2 November dan menetapkannya sebagai tersangka,” kata Tri di Mapolda DIY, Selasa (7/11)

Atas kasus tersebut, NA dan JN dijerat pasal 2 ayat 1 atau pasal 10 UU RI No 21/2007 tentang TPPO dengan ancaman penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 600 juta. “Mereka juga terjerat pasal 81 Jo pasal 69 UU No.18/2017 tentang perlindungan pekerja migran Indonesia dengan ancaman pidana paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar,” terangnya. (bam/all)