Mengenal P5 pada Kurikulum Merdeka

Oleh: Tri Satata, S.Pd.SD
Kepala SD Negeri 1 Rambat, Kec. Geyer, Kab. Grobogan

KURIKULUM merupakan niat dan harapan yang dituangkan ke dalam bentuk rencana maupun program pendidikan yang dilaksanakan oleh para pendidik di sekolah. Kurikulum sebagai niat dan rencana, sedangkan pelaksaannya adalah proses belajar mengajar. Pihak yang terlibat didalam proses tersebut yaitu pendidik dan peserta didik (Nana Sudjana, 2005).

Selama beberapa dekade terakhir, para pendidik dan praktisi pendidikan di seluruh dunia mulai menyadari bahwa pembelajaran di luar ruangan dapat berkontribusi positif pada perkembangan peserta didik. Mengeksplorasi aspek-aspek kehidupan sehari-hari dapat secara signifikan meningkatkan kesadaran dan rasa tanggung jawab peserta didik terhadap lingkungannya.

Pemikiran mengenai pentingnya pengalaman belajar di luar kelas ini juga pernah disuarakan oleh tokoh pendidikan ternama di Indonesia. Pernyataan Ki Hadjar Dewantara terdengar sangat hangat dan mulia dalam konteks pendidikan nasional. Namun, pada kenyataannya, pelaksanaannya belum optimal dalam sistem pendidikan saat ini. Oleh karena itu, untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional tersebut, Kurikulum Merdeka dan inovasi-inovasinya, seperti Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), telah diperkenalkan.

Projek ini dianggap sebagai salah satu alat untuk mencapai berbagai sasaran dalam Profil Pelajar Pancasila. Harapannya, projek ini akan memberikan peluang kepada peserta didik untuk ‘mengalami pengetahuan’ sebagai bagian dari proses penguatan karakter mereka, sambil belajar secara langsung dari lingkungan sosial.

Berdasarkan Pedoman Kemendikbudristek Nomor 56 Tahun 2022, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) adalah sebuah kegiatan kokurikuler yang berfokus pada pendekatan proyek untuk memperkuat upaya dalam mencapai kompetensi dan karakter yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila yang didasarkan pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

P5 adalah pembelajaran lintas disiplin ilmu dalam mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitar. Tujuannya untuk menguatkan berbagai kompetensi dalam Profil Pelajar Pancasila.

Sebuah projek adalah serangkaian kegiatan yang disusun untuk mencapai tujuan tertentu dengan cara memeriksa sebuah topik yang menantang. Projek ini dirancang sedemikian rupa. Sehingga peserta didik dapat melakukan penyelidikan, menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan. Peserta didik bekerja dalam periode waktu yang telah dijadwalkan untuk menghasilkan produk atau tindakan.

Pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dilakukan secara fleksibel dalam hal konten, kegiatan, dan waktu pelaksanaan. Projek ini dirancang secara terpisah dari kurikulum inti.

Tujuan, materi, dan aktivitas pembelajaran dalam projek tidak harus terkait langsung dengan tujuan atau materi pembelajaran dalam kurikulum inti. Institusi pendidikan memiliki fleksibilitas untuk melibatkan masyarakat atau dunia kerja dalam perencanaan dan pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Tahapan P5 dalam Kurikulum Merdeka terdiri dari pertama pengenalan. Mereka akan diperkenalkan dengan lingkungan sekitar mereka melalui tahapan pengenalan. Kedua, tahap kontekstualisasi akan memandu mereka dalam memahami permasalahan yang ada dan mengintegrasikan diri ke dalamnya.

Ketiga, langkah aksi akan diambil untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Keempat, peserta didik dapat melakukan refleksi. Kegiatan ini dapat dilakukan secara individu, dalam kelompok, atau dengan bimbingan dari tim P5.

Kelebihan Kurikulum Merdeka dalam penerapan P5 dapat menghasilkan peserta didik yang mandiri karena mereka diajarkan dan dilatih untuk mempersiapkan diri mereka untuk dunia kerja di masa depan. Mereka akan memperoleh keterampilan yang diperlukan dalam berbagai aspek seperti perencanaan, pemilihan, penganggaran, pengelolaan, dan lainnya.

Sedangkan kelemahannya, mengharuskan pengeluaran yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kurikulum konvensional. Ini disebabkan oleh kebutuhan peserta didik akan peralatan yang lebih modern dan lengkap. Selain itu, penerapan P5 memerlukan perubahan dalam sistem dan metode pembelajaran yang berbeda dari kurikulum tradisional, yang pada gilirannya memerlukan persiapan yang cukup lama sebelum dapat diterapkan. (*)