Dewan Ingin Berikan Perlindungan untuk Anak

Wakil Ketua I DPRD Pemalang Ajeng Triyani
Wakil Ketua I DPRD Pemalang Ajeng Triyani. (UFAN FAUDHIL/JOGLO JATENG)

PEMALANG, Joglo Jateng – Pembentukan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Kota/Kabupaten Layak Anak (KLA) dilatarbelakangi oleh keprihatinan anggota DPRD Pemalang terhadap kekerasan seksual anak, dan masih banyaknya anak-anak di Kabupaten Pemalang yang belum mendapatkan layanan yang baik dari kesehatan serta pendidikan. Dengan harapan, seluruh kebutuhan anak bisa terpenuhi dan terlindungi oleh hukum aturan yang berlaku.

Wakil Ketua I DPRD Pemalang Ajeng Triyani menuturkan, pembentukan Raperda Inisiatif DPRD Pemalang tentang KLA menjadi hal yang penting dan harus segera disahkan. Aturan tersebut dibentuk untuk menginisiasi pemenuhan hak anak-anak di Pemalang mulai dari kesehatan, pendidikan, ekonomi, hingga sosial dan budaya.

Baca juga:  Mansur Optimis Diusung 3 Partai Pemenang Pemilu

“Pemenuhan hak anak ini sangat penting untuk menjaga pertumbuhan dan perlindungan mereka. Selain itu, melihat kasus kekerasan pada anak setiap tahun semakin meningkat, sehingga perlu adanya aturan agar mereka bisa terlindungi dari hal-hal tersebut,” ujarnya, Senin (13/11/23).

Menurut data yang ada, hingga November ini, kasus kekerasan seksual perempuan dan anak di Pemalang kurang lebih 50 kasus. Ajeng menuturkan, hampir setengah lebih kasus yang tercatat merupakan kasus kekerasan seksual pada anak, dan angkanya terus meningkat setiap tahunnya.

Maka menilik banyaknya kasus itu, dirinya mengajak seluruh elemen-elemen masyarakat agar bersinergi untuk meminimalisir atau menurunkan angka kekerasan seksual anak. Dikatakan bahwa mereka merupakan aset negara yang mempunyai kesempatan untuk menjadi pemimpin dalam keberlangsungan pembangunan.

Baca juga:  ASN Pemalang Diingatkan Taat Pajak, Kendaraan Dinas Disidak Satpol PP

“Seluruh elemen masyarakat baik tokoh agama, alim ulama, guru, aparat penegak hukum, ASN, hingga masyarakat biasa harus bareng-bareng untuk menekan kasus ini. Dan ingat, untuk anak yang menjadi korban harus kita dampingi agar bisa kembali bergabung ke lingkungan masyarakat tanpa adanya ketakutan dan diskriminasi,” imbuhnya. (fan/abd)