PSE: Trend and Important Learning di Kurikulum Merdeka

Oleh: Heny Kusmawati, S.Pd
Guru SD Negeri 1 Plantaran, Kec. Kaliwungu Selatan, Kab. Kendal

PERKEMBANGAN zaman selalu diikuti dengan perkembangan kurikulum. Tuntutan zaman yang semakin mendesak, membuat siswa semakin mengesampingkan nilai-nilai moral. Lalu bagaimanakah cara meningkatkan nilai- nilai moral tersebut? Salah satunya yaitu dengan kurikulum.

Kurikulum merdeka berpatokan pada filsafat pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara. Bahwa belajar adalah proses menuntun segala kodrat yang ada pada anak. Selain itu, dalam Jurnal Tambusai Volume 5 Nomor 1 Tahun 2021 halaman 1633, Ki Hadjar Dewantara juga berpendapat bahwa pendidikan merupakan upaya dalam memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan tubuh anak. Tujuannya untuk mencapai kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunianya.

Sedangkan apa yang kita lihat sekarang ini, banyak anak-anak yang tidak memiliki budi pekerti yang luhur. Hal itu juga didukung dengan Hasil PISA 2018 (Kemendikbudristek, 2021) yang melaporkan bahwa 41% siswa Indonesia mengalami perundungan beberapa kali dalam sebulan. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata negara OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development). Itu semua tentu saja jauh dari tujuan pendidikan kita.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Dimana tujuan pendidikan Indonesia sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik. Supaya mereka menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Untuk itulah pembelajaran sosial emosional (PSE) sangat penting dan perlu untuk diterapkan dalam pembelajaran di zaman sekarang ini. Selain menjadi tren karena konsep pembelajarannya yang bagus, PSE ini juga penting (important). Karena program-programnya bertujuan untuk membantu murid mengembangkan perilaku yang sehat. Untuk itu, PSE membutuhkan sistem pendukung yaitu sekolah, keluarga, dan komunitas sebagai mitra (Zins & Elias, 2006).

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

PSE sendiri adalah proses belajar yang berkaitan dengan pemahaman diri, empati terhadap orang lain, serta kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi secara efektif. Menurut Casel (2012), manfaat adanya PSE adalah anak memiliki kompetensi untuk memahami dan mengelola emosi, mengatur, dan meraih tujuan positif. Kemudian merasakan dan menunjukkan perhatian kepada orang lain, menegakkan dan mengelola hubungan positif, dan membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Program PSE juga meningkatkan kompetensi sosial dan emosional dengan membangun kelas positif/budaya sekolah, lingkungan, dan kondisi untuk belajar yang aman. Di samping itu penuh perhatian, kooperatif, terorganisasi dengan baik, dan partisipatif (Zins, 2004).

Lalu, bagaimana cara mengajarkan PSE kepada anak? Yakni dengan cara memasukannya ke dalam kurikulum dan pembelajaran sehari-hari. Melalui pembelajaran yang menyenangkan, guru berusaha untuk memahami emosi anak, memberikan kesempatan anak untuk curhat, mengeluarkan isi hatinya. Selanjutnya guru berusaha untuk menjadi pendengar yang baik, mampu memahami situasi anak, dan memberi solusi atas masalah yang sedang dihadapi anak.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Dengan demikian, anak juga akan berusaha untuk membangun hubungan yang positif dengan temannya, mampu untuk mengontrol emosinya, dan merasa dirinya diperhatikan. Dengan demikian, sangatlah penting PSE ini, terutama di era modern dengan kurikulum merdeka ini.

Selain menjadi tren dan important (penting), PSE ini dapat meminimalisir adanya keadaan yang tidak bahagia, dan memacu semangat belajar anak. Kemudian mampu membuat anak menjadi pribadi yang tumbuh sesuai dengan kodratnya (filsafat Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara).

Selanjutnya mampu menjadikan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri. Berikutnya menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (*)