20 Tahun Eksis, Jadi Soto Legendaris Kecintaan Mahasiswa Jogja

HIDANGKAN: Penjual Soto Pak Jamal saat sedang meracik soto untuk di hidangkan kepada pelanggan, Kamis (16/11). (ADIT BAMBANG SETYAWAN/JOGLO JOGJA)

YOGYAKARTA menjadi daerah yang terlintas di kepala ketika membicarakan kuliner legendaris dan ramah di kantong. Di balik kedai legendaris itu, ada sosok yang sedang mengadu nasib dan memberikan hidangan terbaik dalam cita rasa dan pelayanannya. Salah satunya Jumali (47), pemilik Warung Soto Pak Jamal.

Lebih dari 20 tahun sosok Jumali atau yang akrab disapa Pak Jamal menjajakan kreasi kuliner nusantara yang merakyat dan menghangatkan. Warung Soto miliknya, dikenal sebagai kedai yang ramah kantong bagi warga Yogyakarta.

Dari berbekal gerobak keliling hingga menjadi sebuah warung seperti sekarang, Jamal membagikan kisahnya. Pria asal Wonosari, Gunungkidul, itu, mengaku turut menyaksikan perubahan zaman melalui perputaran pelanggan-pelanggannya yang hadir.

“Saya sering melayani mahasiswa sini dari mereka awal kuliah sampai jadi senior dan mengajak adik tingkatnya,” terangnya, saat ditemui di warungnya di Jalan Damai, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Kamis (16/11).

Tak heran, Warung Soto Pak Jamal jadi kecintaan warga Yogyakarta, terutama kalangan mahasiswa. Pasalnya, menu-menu di kedai miliknya sangat murah untuk sebuah sajian makanan berat yang mengenyangkan.

“Dulu awal dagang, semangkuk soto itu harganya seribu, pada tahun 1999 itu saat masih menggunakan gerobak. Tahun 2005 awal warung dibuka, harganya jadi tiga ribu rupiah,” jelasnya.

Namun, sekarang, semangkuk soto ayam dibandrol dengan harga Rp10 ribu, dan Rp11 ribu untuk ukuran jumbo. Sementara, semangkuk soto daging sapi dihargai Rp11 ribu dan Rp13 ribu untuk ukuran jumbo. Angka-angka tersebut masih dalam rentang harga yang terjangkau bagi warga Yogyakarta, terutama mahasiswa.

Selain dikenal dengan harganya yang ramah di kantong, sepetak kedai yang dilengkapi dengan dua gerobak masing-masing untuk soto dan lauk pelengkap ini juga dikenal dengan usianya yang sudah tua. Dibuka sejak tahun 2005, kedai sederhana ini terbilang telah melalui banyak masa dan era sehingga patut dikagumi karena sudah bertahan sejauh ini.

“Awal mangkal di sini tahun 2005, harga soto ayam masih tiga ribu. Hampir setiap tahun naik harganya mengikuti situasi ekonomi masyarakat,” ungkapnya.

Dengan banyaknya warung soto yang menjamur di tiap sudut Yogyakarta, terutama Jalan Damai, warung soto milik Pak Jamal menjadi yang tertua. Tidak jarang ia melayani figur publik seperti pejabat pemerintahan dan tokoh masyarakat lainnya.

“Dulu saat beliau masih menjabat menjadi rektor di UGM, Pak Pratikno Menteri Sekretaris Negara sering makan di sini. Sekarang sudah jadi menteri sehingga jarang di Jogja,” ucapnya.

Perjuangan Jamal dalam merintis usahanya tidak dilakukan secara unstan. Dia mengawali usahanya dengan berdagang keliling menggunakan gerobak di tahun 1999. Sebelumnya, dirinya merupakan seorang karyawan yang bekerja untuk orang lain dengan berkeliling menjual tabung gas. Namun karena memiliki keinginan untuk usaha mandiri ia akhirnya memilih soto ayam untuk dijadikan produk usahanya.

Berbekalkan gerobaknya, ia berdagang mengelilingi daerah Jalan Damai, Jalan Banteng, Prujakan, dan sekitarnya. Sekarang, warungnya masih berdiri kokoh di Jl. Damai, Tambakan, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, tempat yang sama dari pertama berdiri 18 tahun silam. Selain itu, Warung Soto Pak Jamal memiliki cabang pertamanya di Kecamatan Pakem, Sleman.

Dulunya, iaenjual menu soto ayam khas Wonosari, Gunungkidul. Memiliki cita rasa utama yang manis dengan gula jawa sebagai salah satu bahan utamanya, Pak Jamal mengakui bahwa banyak yang kurang cocok dengan menu tersebut. Pasalnya, kebanyakan pelanggan Pak Jamal merupakan mahasiswa dari luar Pulau Jawa yang kurang menyukai rasa manis pada masakan soto.

“Dulu saya menjual soto lenthok khas Gunungkidul. Dilengkapi dengan tempe bacem, tahu bacem, dan ketela goreng pakai bumbu bawang dan ketumbar. Karena banyak yang gak suka soto manis, jadi saya ubah. Makanya, sekarang saya tidak pakai nama khas Wonosari,” tutur Pak Jamal.

Sedikit demi sedikit dilakukan pengembangan terhadap racikan soto ayam dan makanan pendampingnya. Setelah menuruti masukan dan saran dari para pelanggan, Jamal akhirnya mulai mengubah menu soto lenthok khas Gunungkidul menjadi soto ayam yang biasa ditemui di penjuru nusantara.

“Mereka juga minta pakai lauk goreng-gorengan, saya juga jadi terbantu karena goreng-gorengan lebih mudah disiapkannya dibanding baceman.” tambahnya.

Di tahun-tahun berikutnya, Warung Soto Pak Jamal mulai menyediakan varian daging sapi pada menu sotonya. Hal tersebut juga dia akui merupakan permintaan dari pelanggan dan mengikuti tren masakan soto di daerah Yogyakata. Kendati  begitu, soto ayam tetap menjadi menu favorit bagi pelanggan setia Pak Jamal.

“Saya menyiapkan daging ayam sekitar lima belas kg dan daging sapi dua kg per hari. Alhamdulillah biasanya habis,” ucap Jamal bangga.

Buka dari pukul 5.30 pagi hingga habis, Jamal menceritakan kegiatannya sehari-hari dalam mempersiapkan kedainya. Dirinya mulai melakukan persiapan dari pukul 3.30 dini hari.

Ia mengaku, kemauannya yang tinggi menjadi bahan bakar dalam menjalani kesehariannya. “Kalau kemauan kita tipis, pasti akan merasa capek. Tapi, kalau kemauan kita keras kita gak akan capek menjalani pekerjaan kita. Kalau capek pun, saya istirahat aja dari sore lepas Asar, langsung hilang capeknya,” imbuhnya.

Selain itu, menurutnya, menjalani pekerjaan sebagai pedagang cukup rewarding baginya. Hal ini dikarenakan ia senang membangun koneksi dan silaturahmi terhadap pelanggannya.

Meski begitu, tidak dapat dimungkiri bahwa Jamal juga ingin mengembangkan warung makannya melalui cabang-cabang baru. Ia berharap untuk bisa dapat membuka cabang baru di sekitar Universitas Gadjah Mada, agar para mahasiswa yang ingin menikmati kreasi Pak Jamal tidak perlu menempuh perjalanan jauh.

“Harapan ke depannya ya kalau bisa ya seperti ini terus, jangan berubah tetap stabil,” tutupnya. (bam/)