Melalui Sosialisasi, Stunting Berhasil Alami Penurunan

PROGRAM: Tampak remaja putri di Kudus menunjukkan sebutir Tablet Tambah Darah (TTD) dalam aksi bergizi juga dilakukan dengan meminum seminggu sekali untuk mencegah anemia, beberapa waktu lalu. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 215/PMK.07/2021 Bab II Pasal 10 ayat (1) huruf a point 1 disebutkan, penggunaan DBHCHT melalui program lingkungan sosial untuk mendukung bidang kesehatan pelayanan kesehatan baik kegiatan promotif/preventif, maupun kuratif/rehabilitatif dengan prioritas mendukung upaya penurunan angga prevelensi stunting.

KUDUS, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus tengah mengalami penurunan angka stunting secara drastis. Hasil ini didapatkan melalui peningkatan masyarakat dalam sosialisasi stunting dengan pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Andini Aridewi melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Nuryanto mengungkapkan dari total 59.529 balita di Kudus, 2.890 mengalami stunting. Angka itu setara dengan persentase 5,1%, jauh di bawah standar nasional sebesar 14%.

Baca juga:  Pj Gubernur Jateng Yakin Angka Stunting Turun

“Melalui penimbangan rutin, upaya penurunan stunting telah dilakukan di Kudus dengan intervensi yang dilakukan oleh puskesmas melalui bidan desa setiap kali penimbangan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, pihaknya menekankan bahwa Kabupaten Kudus terus melakukan upaya pencegahan stunting secara menyeluruh. Mulai dari tahap hulu dengan memberikan edukasi dan sosialisasi kepada remaja dan calon pengantin.

“Hal ini kita lakukan agar calon ibu sadar terhadap kesehatan diri dan calon bayi. Edukasi kepada calon pengantin juga perlu dilakukan. Pemeriksaan kesehatan dan screening juga dilakukan dengan harapan agar sebelum memasuki kehidupan pernikahan, mereka siap secara fisik dan kesehatan saat hamil nantinya,” jelasnya.

Baca juga:  Akhir 2023, Pemkab Kudus Selesaikan Sarana Penunjang SIHT

Lebih lanjut, Nuryanto menjelaskan pentingnya mengawal anak selama 1.000 hari pertama kehidupan. Dimulai dari konsepsi atau pembuahan hingga usia dua tahun. Selama kehamilan, Antenatal Care (ANC) dilakukan enam kali kunjungan puskesmas untuk memastikan deteksi dini dan menjaga kualitas kesehatan ibu dan anak.

“ANC yang baik dapat mengurangi risiko stunting, angka kematian ibu (AKI), dan angka kematian bayi (AKB). Dengan pemantauan rutin melalui posyandu, pertumbuhan dan perkembangan anak dapat terpantau, dan jika ditemukan masalah, dapat segera diintervensi. Pemantauan ini dapat dilakukan dengan gratis melalui puskesmas terdekat,” tandasnya. (cr11/fat)